RADAR JOGJA – Siapa saja dan di mana saja bisa kena DBD. Data Dinkes Kabupaten Gunungkidul, nyamuk nakal tersebut paling banyak menjangkiti warga yang tinggal di Kapanewon Wonosari, Karangmojo, Ponjong dan warga Kapanewon Playen.

Penduduk perkotaan paling rentan dengan DBD. Kemudian kasus DBD tidak mengenal batasan usia, bahkan sampai dengan sekarang empat pasien meninggal dunia. Karena di tahun ini pada setiap bulannya ada trend kenaikan kasus semua pihak diminta waspada.“Kami mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai siklus empat tahunan demam berdarah,” kata Kepala Bidang Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro saat dihubungi Selasa (17/11).

Penerapkan pola hidup bersih dan sehat wajib dilakukan. Program 3 M (menutup, menguras, dan mengubur) benda-benda sekitar lingkungan karena berpotensi menjadi sarang nyamuk terus disosialisasikan. “Pola penyebaran penyakit demam berdarah dari tahun ke tahun hampir sama. Terjadi kenaikan sejak September. Diperkirakan Desember sampai dengan Februari menjadi puncak penyebaran,” ungkapnya.

Dikatakan, selain penerapan 3 M, juga bisa dilakukan dengan fogging. Akan tetapi fogging hanya menyasar nyamuk dewasa. PSN paling efektif sebagai upaya pencegahan.“Jika tidak, telur atau jentik dalam lima hari akan menjadi nyamuk sehingga bisa menularkan DBD, meski sudah dilakukan fogging,” ucapnya.

Seorang warga Trimulyo, Kepek, Wonosari, Agus Driyanto mengatakan, pencegahan DBD dilakukan penyemprotan desinfektan. Ketika ada lonjakan kasus pernah dilakukan dua hari sekali. Diharapkan fogging dapat mengantisipasi penyebaran nyamuk aedes aegypti. “Karena pemukiman penduduk padat, maka perlu diantisipasi,” kata Agus. (gun/pra)

Gunungkidul