RADAR JOGJA – Masyarakat diimbau mewaspadai penyakit DBD. Mengingat saat ini sudah mulai sering turun hujan sehingga berpotensi terjadinya peningkatan kasus yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Siapa saja bisa kena, termasuk Bupati Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul Badingah juga mengaku sempat terbaring lemah karena dinyatakan positif DBD. Selama berhari-hari pihaknya terbaring lemah di rumah dinas dan menjalani perawatan medis. “Saya imbau masyarakat agar jangan menganggap remeh DBD, karena saya sendiri juga sempat kena,” kata Badingah Selasa (17/11).

Data jumlah kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Gunungkidul terus melonjak. Dalam rentang Januari-pertengahan April 2020, hampir mendekati 1.000 kasus warga terkena gigitan nyamuk aedes aegypti. Empat di antaranya meninggal dunia. Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul Sumitro mengatakan, peningkatan kasus terpantau sejak triwulan pertama 2019. Dalam rentang waktu tersebut Maret terbanyak dengan 250 kasus.“Total sampai dengan sekarang ada 950 kasus DBD, empat diantaranya meninggal dunia,” kata Sumitro.

Dikatakan, kasus meninggal karena DBD, perbandingannya juga naik jika triwulan pertama tahun lalu yakni satu kejadian, sekarang bertambah menjadi empat orang. Sebaran wilayah endemik DBD tidak mengalami perubahan yakni, Kecamatan Karangmojo, Ponjong, Wonosari dan Patuk. Kecamatan Wonosari tertinggi yakni mencapai lebih dari 70 kasus.“Meski ada peningkatan kasus DBD belum ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa),” ujarnya.

Menurut dia, pertimbangan tidak ditetapkan KLB karena diklaim masih dapat dikendalikan. Saat ini pihak terkait berupaya melakukan pencegahan dengan sejumlah program. Mulai dari pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan koordinasi lintas sektoral dari tingkat kabupaten hingga desa diperkuat.“Kasus DBD terbanyak didominasi jenis kelamin lak-laki dengan 507 kasus, sementara perempuan 443 kasus,” ungkapnya.

Menurut dia, jika dilihat dari grafik, sebenarnya penyebaran DBD pada bulan ini mengalami penurunan, meskipun secara akumulatif terhitung meningkat disbanding 2019. Tren penurunan terlihat mulai Juni dengan 34 kasus, Juli 20 kasus, Agustus 13 kasus, September delapan kasus, Oktober enam kasus dan November sampai dengan kemarin tujuh kasus.“PSN paling efektif sebagai upaya pencegahan. Jika tidak, telur atau jentik dalam lima hari akan menjadi nyamuk sehingga bisa menularkan DBD, meski sudah dilakukan fogging (penyemprotan),” terangnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho mengatakan, persoalan lingkungan harus menjadi tanggungjawab bersama. Upaya pencegahan hendaknya digalakan agar ancaman DBD bisa ditekan seminimal mungkin. “Di tengah acaman Covid-19, penyakit DBD juga mengintai. Kami mendorong pemerintah agar bergerak cepat melakuan pencegahan secara masif,” kata Heri Nugroho. (gun/pra)

Gunungkidul