RADAR JOGJA – Dinas Pariwisata DIY kembali mengadakan pelatihan pendampingan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Lembaga Wisata Desa Mandiri Budaya di Kabupaten Gunungkidul. Setelah Desa Putat, Patuk, kali ini gantian Desa Bejiharjo, Karangmojo.
Dalam pendampingan itu ada tiga materi yang menjadi perhatian. Pertama, seputar manajemen pengelolaan desa mandiri budaya. Kedua, manajemen pemasaran. Sedangkan ketiga terkait paket pariwisata.
“Tahun ini kami fokus memberikan pendampingan,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistiyani di Balai Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Rabu(11/11). Pendampingan berlangsung selama seminggu. Pesertanya berjumlah 30 orang. Di antaranya, perangkat desa, perwakilan pokdarwis, pengelolaan badan usaha milik desa (BUMDes) dan tokoh masyarakat.
Titik menerangkan, desa mandiri budaya merupakan penyederhaan dari empat status yang disandang satu desa, Yakni desa wisata, desa budaya, desa preneur dan desa prima. Empat status itu disatukan menjadi desa mandiri budaya. Ada sebanyak 10 desa mandiri budaya yang telah ditetapkan Pemda DIY. Tersebar di empat kabupaten. Mulai Gunungkidul, Bantul, Sleman dan Kulonprogo.
Kepala Seksi Industri Kelembagaan Dinas Pariwisasata Gunungkidul Sujarwono menambahkan, peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM desa mandiri budaya sangat dibutuhkkan. Dengan pendampingan itu bakal mendukung kemandirian desa. Kemandirian itu dilihat dari empat komponen. Meliputi perekonomian, sosial, budaya dan ketahanan pangan.
Lurah Bejiharjo Yanto mengapresiasi dengan adanya pendampingan tersebut. Dia optimistis dengan adanya desa mandiri budaya itu akan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan warganya. Apalagi setelah ditetapkan sebagai desa mandiri budaya, Desa Bejiharjo mulai 2021 mendapatkan kucuran dana keistimewaan (danais) sebesar Rp 1 miliar.
“Dana itu langsung masuk APBDes dan dipakai membiayai empat kegiatan,” terangnya. Empat kegiatan itu, lanjut Yanto, meliputi kebudayaan, kepariwisataan, desa prima dan desa preneur. “Dana tersebut tidak boleh untuk kegiatan fisik.Namun pemberdayaan,” jelas dia.
Sebelumnya saat pendampingan di Desa Putat, Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Rose Sutikno menyebut Desa Putat dan Desa Bejiharjo menjadi pilot project atau percontohan desa mandiri budaya.
“Pengembangan desa mandiri budaya kuncinya kreativitas dan inovasi,” ingat Rose saat berada di Desa Wisata Kuliner Kampung Emas Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul pada Kamis (5/11).
Dikatakan, segala permintaan pasar harus direspons. Desa mandiri budaya diharapkan juga dapat membuka peluang kerja. “Jangan sampai ada pengangguran,” ujarnya.
Pendampingan desa mandiri budaya bukan hanya dilakukan Dinas Pariwisata DIY. Namun juga melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya. Di antaranya dinas kebudayaan, dinas perindustrian dan perdagangan, dinas koperasi dan UKM serta dinas pemberdayaan perempuan. (gun/kus)

Gunungkidul