RADAR JOGJA – Sebagai upaya pelestarian sumber daya air baku untuk kehidupan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak (SO) menggelar program sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pemanfaan air hujan Rabu (28/10).
Kegiatan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) ini berupa pembekalan kepada masyarakat tentang bagaimana mengoperasikan alat pemanen air hujan, pemeliharaan, dan cara mengolah air hujan.

Diikuti 50 peserta dari Kapanewon Patuk, Nglipar, dan Saptosari, kegiatan berlangsung di Pendopo Pusat Informasi Pariwisata Gunungkidul dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Selain itu kegiatan juga bisa disaksikan secara virtual melalui Zoom metting dan kanal YouTube milik BBWS Serayu Opak.
Pelaksana Kegiatan GNKPA BBWS Serayu Opak Riga Kitty mengungkapkan, pembekalan merupakan hasil kerja sama dengan mitra-mitra Balai Serayu Opak yakni dari UGM dan Komunitas Banyu Bening.

Sosialisasi alat pemanen air hujan dan drainase ramah lingkungan (Eko-Drainase) ini merupakan kegiatan kedua. Sebelumnya telah dilaksanakan di Wates, Kulonprogo,” katanya ditemui disela kegiatan.

Namun demikian, Riga menjelaskan, GNKPA BBWS Serayu Opak sendiri telah memasang alat pemanen air hujan di Sembilan titik. Diantaranya dua titik di Kota Jogja, dua titik di Wates Kulonprogo, tiga titik di Gunungkidul, Satu titik di Sleman, dan dilingkungan sekitar BBWS Serayu Opak.

“Karena di Gunungkidul kami anggap berada disatu lokasi, maka peserta dari tiga titik kami gabungkan,” ujarnya.

Dari kesembilan titik yang telah dipasang alat pemanen air hujan, Riga mengungkapkan masyarakat menyambut baik kegiatan ini sebagai solusi alternatif pemanfaatan sumber daya air tepat guna di masyarakat.

Ketua Tim Plt. Pengendalian dan Pelaksanaan ATAB, BBWS Serayu Opak Riva Shofiarto menegaskan, kegiatan ini merupakan program dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (Kemen PUPR RI) melalui BBWS SO berkaitan dengan kegiatan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA).

Riva mengungkapkan, gerakan ini penting dilakukan karena melihat dari tahun-ketahun sumber air bersih semakin berkurang. Hal tersebut diiringi banyaknya alih fungsi lahan saat ini dan pertumbuhan penduduk yang semakin padat.
Untuk itu, pemanfaatan air hujan dianggap solusi alternatif, melihat air hujan belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, masyarakat (komunitas) juga merupakan bagian dari Water Governance.
“Solusinya saat ini, ya air hujan harus ditampung dan dimanfaatkan sebagai alternatif sumber air masa depan (Rain Water Harvesting),” ungkapnya.
Lebih lanjut Riva menjelaskan, program GNKPA sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2005 era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menggandeng delapan Kementerian disetiap tahunnya, dulu gerakan penyelamatan air tersebut berupa program reboisasi. “Tahun ini program GNKPA tidak lagi reboisasi, namun dengan mengadakan pemanfaatan dan penagdaan alat pemanen air hujan,” jelas Riva.

Usai Sembilan titik rampung, pihkanya terus akan memantau dan mengevaluasi secara kontinue pemaanfaatan dan pemeliharaannya di masyarakat. “Apakah berjalan dengan baik atau tidaknya dimasyarakat. Semoga dapat bermanfaat dan diterima dengan baik,” tegasnya.

Hadir tiga narasumber memberikan materi terkait Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA). Pemaparan pertama oleh Kepala Lab. dan Bengkel Hidraulika dan lingkungan Sekolah Vokasi UGM M. Sulaiman. Sulaiman memaparkan cara kerja alat pemanen air hujan.

Selanjutnya pemateri kedua dari Komunitas Banyu Bening oleh Sri Wahyuningsih. Perempuan yang akrab disapa Yu Ning ini menjelaskan terkait pengolahan dan pemanfaatan air hujan untuk keberelangsungan hidup.

Pemateri terakhir, Subkoordinator Pelaksana Tugas Perencanaan Umum BBWS Serayu Opak Shakti Rahadiansyah yang menjelaskan tentang program kemitraan GNKPA. (*/naf/ila)

Gunungkidul