RADAR JOGJA – Selama delapan aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka akibat pendemi Covid-19 ditiadakan. Seiring berjalannya waktu, muncul kesepakatan antara sekolah dan wali murid mengenai KBM tatap muka melalui perjanjian tertulis.

Kepala Bidang SMP, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Kisworo mengatakan, KBM dimasa pandemi dilakukan secara terbatas. Sudah 80 persen atau sekitar 130 sekolah tingkat SMP mulai menyelenggarakan kegiatan tatap muka terbatas. “Merupakan KBM masa transisi dan diselenggarakan minimal satu kali pertemuan setiap minggu,” kata Kisworo dihubungi Senin (26/10).

Pertemuan, minimal satu kali untuk kelas 7 dan 8. Kelas sembilan dilaksanakan dua kali setiap minggunya karena sebagai persiapan kelulusan. Masing-masing KBM terbatas serta terjadwal. Setiap pertemuan berlansung selama dua jam. “Selebihnya belajar di rumah,” ujarnya.

Dia menjelaskan, KBM terbatas merupakan kesepakatan antara pihak sekolah dan wali murid yang tertuang dalam surat pernyataan. Sehingga, tidak ada paksaan. Jika wali murid menghendaki anak tetap belajar di rumah tetap diperbolehkan.

Dalam sosialiasi, jelasnya, komite sekolah memastikan para orang tua tidak keberaatan dengan program tersebut. Bila keberatan, siswa boleh tidak masuk dan diberikan melalui daring.

Disinggung mengenai kegiatan belajar mengajar secara penuh, pihaknya belum bisa memastikan waktunya.  ”Tergantung dengan kondisi penyebaran wabah korona. Sebab dalam edaran yang diberikan pembelajaran daring tidak ada batas waktu,” jelasnya. Ditegaskan, penerapan tatap muka terbatas. Dan sifatnya situasional karena kebijakan bisa diubah sewaktu-waktu.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Karangmojo, Suhartati mengaku belum menggelar pertemuan tatap muka secara terbatas. Ada berapa faktor yang membuat pertemuan tersebut belum bisa diselenggarakan, salah satunya mengacu padi zonasi pemetaan Covid-19.

“Namun kami sudah mempersiapkan kalender untuk pertemuan terbatas. Hal ini berdasarka hasil angket ke wali murid, dimana 83 persen orang tua tidak mempermasalahan KBM tatap muka terbatas,” kata Suhartati.

Akan tetapi, kelanjutan dari kebijakan tersebut belum bisa  terealisasi karena munculnya kasus positif korona baru tidak jauh dari sekolah. Oleh sebab itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan satgas Covid-19 tingkat kecamatan. “Kalau ada lampu hijau, kami bisa menggelar pembelajaran dengan model petemuan tatap muka terbatas,” terangnya. (gun/bah)

Gunungkidul