RADAR JOGJA – Satuan polisi lalulintas (Satlantas) Polres Gunungkidul terus melakukan sosialisasi penerapkan penegakan hukum di bidang lalu lintas berbasis teknologi menggunakan perangkat kamera Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE). Diharapkan masyarakat paham dengan penindakan pelanggaran secara otomatis tersebut.

Kasat Lantas Polres Gunungkidul AKP Anang Tri Nuviyan mengatakan, penerapan E-TLE sekaligus mengurangi resiko terjadinya penularan ditengah pandemi Covid-19. Dengan sistem penegakkan hukum tersebut, tilang tidak akan berhubungan dengan masyarakat secara langsung. Atau memberikan surat tilang tanpa berinteraksi dengan pelanggar.

“Interaksi petugas dengan masyarakat dikurangi dengan penerapan E- TLE ini,” kata Anang Tri Nuviyan disela sosialisasi inovasi Ditlantas Polda DIY di Wonosari kemarin (22/10).

Dia menjelaskan, ada empat titik kamera yang digunakan dalam E-TLE. Pertama di Tambak Wates Kulonprogo, kedua di Ngabean Kota Jogjakarta, ketiga Maguwoharjo Sleman, dan keempat di wilayah perbatasan antara Gunungkidul dan Banguntapan, Bantul.

“Di Gunungkidul memang belum ada kamera E-TLE, namun tingginya intensitas warga Gunungkidul ke Jogjakarta dipantau melalui wilayah Banguntapan,” ujarnya.

Mantan pejabat di Ditlantas Polda DIY ini mengungkapkan, mahalnya harga kamera E-TLE menjadi pertimbangan kabupaten berjuluk Handayani tidak ada pemasangan. Kata dia, satu kamere E-TLE senilai Rp 400 juta.

“Namun penekanan kami dalam sosialisasi ini, kamera E-TLE dapat mendeteksi berbagai jenis pelanggaran lalu lintas dan menyajikan data kendaraan bermotor secara otomatis,” ungkapnya.

Misalnya, ketika pengemudi melanggar, kamera yang telah dipasang akan memotret langsung kendaraan yang telah melanggar. Sehingga rekaman ETLE ini bisa digunakan sebagai barang bukti dalam perkara lalu lintas.

“Untuk saat ini masih pada batasan sosiliasi belum penindakan,” ucapnya.

Sementara itu, seorang pengguna jalan warga Wonosari Anton Wahyudi mengaku sudah mendengar adanya penindakan pelanggaran lalu lintas berbasis kamera tersebut. Pria yang berprofesi sebagai ojek online (ojol) ini mendukung program E-TLE.

“Harapan saya, sosialisasi terus digencarkan supaya masyarakat luas paham dan tidak kebingungan jika dinyatakan melanggar,” kata Anton Wahyudi. (gun/pra)

Gunungkidul