RADAR JOGJA – Peninggalan sejarah era 1800-an di Kapanewon Ponjong, masih bisa dilihat dan disentuh. Berupa Alquran tulisan tangan yang diperkirakan berusia hampir dua abad. Selain itu, juga ada peninggalan rumah ibadah berupa masjid.

GUNAWAN, Gunungkidul, Radar Jogja

TEMPAT perkembangan peradaban masa lalu di Gunungkidul itu kembali muncul ke permukaan. Di Padukuhan Wonodoyo, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong, jejak sejarah penyebaran agama Islam masih terselamatkan hingga kini. Yakni Alquran tulisan tangan dan kelengkapan bangunan Masjid Jami’. Jejak masa lalu itu, saat ini sudah menjadi cagar budaya di Bumi Handayani.

Radar Jogja Rabu (21/10) berkesempatan menemui takmir Masjid Jami’ bernama Jayani Zaini, 67. Dia menjadi ahli waris sekaligus saksi hidup yang dapat dimintai keterangan. Kakek empat anak, 10 cucu, dan 4 cicit ini sangat sabar saat menjawab pertanyaan panjang.

“Ini mas,” kata Zaini sambil menunjukkan Alquran yang diambil dari dalam almari kayu. Sebuah Alquran tulisan tangan berusia ratusan tahun tersimpan di rumah berbentuk limasan. Lingkungan sekitar rumah sangat bersih. Penataan interior rumah juga nampak rapi.

Kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW itu diletakkan rapi dalam kotak berwarna putih dan coklat, di atas almari ruang tamu. Ia lantas mengeluarkan Alquran dari dalam kotak.  Terlihat bagian sampul terbuat dari kulit tak utuh lagi.

Sementara bahan kertas rusak di beberapa bagian karena termakan usia.  Namun untuk tulisan, masih terlihat jelas. Lembar pertama ada tulisan Arab dan Jawa, namun terlihat kurang jelas. “Sudah turun temurun ada di sini, tetapi saya baru merawatnya sejak 1997,”  ujarnya.

Dia lalu menjelaskan, Alquran bersejarah itu sejatinya milik Muhammad Ihsan, putra KRT Wiroyudo. Di waktu kecil, Ihsan dan saudaranya, Hasan, disekolahkan ke Arab Saudi selama beberapa tahun. Keduanya menuntut ilmu di sana dan akhirnya kembali ke Indonesia.

Sekembalinya ke Indonesia, keduanya membantu KRT Wiroyudo menyebarkan Islam di daerah Wonosari. Sesudah itu, KH Muhammad Ihsan mendekati raja di Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dengan mengabdi sebagai abdi dalem. Kemudian karena jasanya itu, Ihsan diberi tanah Merdikan sekitar satu hektare di Padukuhan Wonojoyo.

Ihsan juga mendapatkan putri Triman (putri pemberian raja) untuk dipersunting. Setelah memiliki anak dan istri, kemudian mendapatkan pesan untuk mendirikan rumah limasan dan joglo yang sangat sederhana. “Rumahnya dulu di depan masjid ini,”  ungkap Zaini.

KH Muhammad Ihsan kemudian mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Rodhatul Qulud. Santri di ponpes ini tidak hanya berasal dari Wonosari saja, tapi juga luar daerah. Ihsan juga mendirikan masjid yang sekarang bernama Masjid Jami Wonodoyo. “Kini Masjid Al Jami itu berdiri tegak di depan rumah saya,” ungkapnya.

Di teras masjid terdapat bedug, dan uniknya di salah satu bagian atap gentingnya ada yang terbuat dari kayu. Salah seorang kerabat Zaini, Agus Rohdianto mengatakan, bentuk bangunan masjid asli sejak awal dibangun berupa atap terbuat dari kayu, tiang, dan bedug. “Itu atapnya ada yang dari kayu, tetap dipertahankan sampai sekarang,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul Agus Mantara mengatakan, Alquran, masjid, dan bedug sudah menjadi cagar budaya Gunungkidul sejak 2018. Pemerintah memberikan perhatian khusus agar tetap lestari keberadaannya.

“Ke depan bisa dijadikan wisata religi dan sejarah di kawasan tersebut. Untuk Alquran, itu kemungkinan ditulis sekitar tahun 1824,”  ungkap Agus. (laz)

Gunungkidul