RADAR JOGJA – Selain awas terhadap pandemi Covid-19, masyarakat diimbau untuk waspadai penyebaran dengan demam. Di masa pancaroba, pandemi yang disebabkan nyamuk aedes aegypti ini kerap meningkat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, lonjakan demam berdarah terpantau sejak awal tahun 2020, tercatat 142 kasus. Kemudian meningkat menjadi 256 kasus di Februari dan 262 kasus pada Maret. Memasuki April total ada 719 kasus.

Lalu akumulasi kasus DBD di Gunungkidul sejak Januari hingga akhir September mencapai 938 kasus. Dari data itu diketahui sebanyak empat orang meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan medis. ”Kami mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai siklus empat tahunan demam berdarah,” kata Kepala Bidang Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro saat dihubungi Minggu (18/10).

Masyarakat, diminta untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. “Gerakan 3 M (menutup, menguras, dan mengubur) benda-benda sekitar lingkungan karena berpotensi menjadi sarang nyamuk,” ujarnya.

Menurut Sumitro, pola penyebaran penyakit demam berdarah dari tahun ke tahun hampir sama. September mulai naik meski tidak signifikan. Kemudian di perkirakan Desember sampai dengan Februari menjadi puncak penyebaran.

“Di DIJ siklus terjadi 4 tahunan. Prediksi kami tahun ini  tinggi,” ucapnya.

Dikatakan, selain penerapan 3 M, juga bisa dilakukan dengan fogging. Akan tetapi fogging hanya menyasar nyamuk dewasa. PSN (pemberantasan sarang nyamuk) paling efektif sebagai upaya pencegahan.

“Jika tidak, telur atau jentik dalam lima hari akan menjadi nyamuk sehingga bisa menularkan DBD, meski sudah dilakukan fogging,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty menyiapkan bubuk abate dan diberikan secara gratis di setiap puskesmas. Warga bisa mengakses obat teresebut dengan mendatangi ke puskesmas terdekat.

“Di puskesmas nanti dijelaskan cara mendapatkan bubuk abate. Semua (abate, Red) diberikan secara gratis,” kata Dewi Irawaty. (gun/bah)

Gunungkidul