RADAR JOGJA – Sesuai prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), akhir Oktober tahun ini memasuki musim penghujan. Di masa peralihan ada prediksi cuaca ekstrem sehingga meningkatkan potensi bencana, khususnya angin kencang dan banjir.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, potensi angin kencang berlangsung ke semua kapanewon. Oleh sebab itu pihaknya mengimbau masyarakat  supaya wasada. Upaya pengurangan risiko, salah satunya koordinasi dengan masing-masing kapanewon agar melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana.

“Kami juga meminta masyarakat berhati-hati dan waspada berkaitan dengan ancaman bencana alam,” kata Edy Basuki Senin (12/10).

Selain itu, BPBD juga meminta kepada kalurahan yang memiliki alat pendeteksi dini longsor  melakukan pengecekan terkait fungsi alat. Dikatakan, data awal dari 30 EWS atau early warning system, hanya sepuluh yang bisa berfungsi.

“Kembali kepada keterlibatan masyarakat dalam pengurangan resiko bencana, gerakan kebersihan lingkungan sekitar rumah memiliki perananan penting. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, kebersihan lingkungan memiliki andil mengurangi risiko banjir.

“Banjir terjadi karena saluran-saluran pembuangan mampet,” ungkapnya.

Menurutnya, gerakan kebersihan lingkungan termasuk memotong dahan dan ranting pepohonan di sekitar rumah. Pemotongan dilakukan demi mengurangi risiko pohon tumbang akibat embusan angin kencang.

“Sejauh ini ada satu kasus pohon tumbang memicu kerusakan di Kapanewon Rongkop,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, masa pancaroba bisa mempengaruhi kesehatan. Perubahan cuaca mempengaruhi kondisi tubuh. Dengan begitu, dia meminta masyarakat menjaga kesehatan agar tidak mudah terserang penyakit.

“Terus jalankan pola hidup bersih dan sehat. makan-makanan bergizi dan rutin berolahraga,” kata Dewi Irawaty. (gun/bah)

Gunungkidul