RADAR JOGJA – Kearifan lokal membuka kain kafan Cupu Panjolo kembali digelar warga Mendak, Girisekar, Panggang. Tanda-tanda yang muncul dalam lembaran kain putih menjadi multitafsir dalam percaturan politik.

Cupu Kyai Panjolo berupa tiga guci. Satu tahun lalu diletakkan dalam kotak kayu kondisi ukuran lebar 35 cm, panjang 20 cm dan tinggi 15 cm. Dibungkus kain kafan besarnya hampir sama sekarung beras 50 kg. Jumlah kain kurang lebih 400 lembar. Cupu paling besar bernama Semar Kinandu, ukuran di bawahnya Kalang Kinantang, paling kecil Kentiwiri. Setiap tahun Cupu Panjolo dibuka bertepatan dengan persiapan masa tanam di rumah Dwidjo Sumarto.

Seiring perkembangan zaman, tafsir itu juga dikaitkan dengan persoalan sosial dan politik. Nah, tahun ini tepatnya pada Senin (5/10) malam hingga Selasa (6/10). Berbeda dengan tahun sebelumnya, tradisi buka Cupu Panjolo tahun ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19.

“Tahun ini tidak ada kenduri sepiring berdua. Gantinya porsi sepiring dibagi dua. Masing-masing pengunjung makan separuh untuk tetap menjaga jarak,” kata Lurah Girisekar Sutarpan.

Acara yang dinanti-nanti akhirnya dimulai. Balutan kain mori mulai dibuka. Ratusan kain berwarna putih membalut cupu terurai. Demi ketaatan terhadap protokol kesehatan (prokes), prosesi pembukaan cupu berlangsung cepat. Pukul 00.30 selesai, yang biasanya sampai dini hari.

“Selama prosesi pembukaan Cupu Panjolo, pengunjung wajib menjaga protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak,” ungkap Sutarpan.

Jumlah pengunjung juga dibatasi. Hanya tamu undangan, trah pemilik rumah, dan media saja yang diperkenankan masuk. Total dibatasi 30 orang saja di dalam ruangan. Selebihnya di luar. Di antara tanda yang muncul menyerupai angka-angka, selimut, bercak darah, huruf dan masih banyak lagi. Total ada 38 tafsir. (gun/laz)

Dulu untuk Musim Tanam, Kini Berkembang ke Politik

Sementara itu, Juru Kunci Cupu Panjolo sekaligus pemilik rumah rumah Dwidjo Sumarto mengaku telah menjadi juru kunci Cupu Panjolo selama 30 tahun. Awalnya tradisi ini merupakan ‘prakiraan’ musim tanam, namun berkembang ke situasi politik dan sebagainya.

“Kami tidak akan mengartikan apa makna gambar-gambar tersebut. Silakan menganalisa sendiri. Saya tidak bisa meramal,”  kata Dwijo.

Menurut dia,  tradisi Cupu Panjolo ada sejak 1957. Semula berada di daerah Temu Ireng, Girisuko, dan Panggang sesuai masa keturunan yang merawatnya. Yakni berada di sebuah rumah di depan Balai Desa Girisekar.

Terpisah, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan, pembukaan cupu merupakan kegiatan rutin tahunan. Dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon atau malam Jumat Kliwon. “Buka cupu ini sudah masuk Kemendikbud dan dimasukkan sebagai warisan budaya tak benda,” katanya.

Disinggung mengenai adanya kepercayaan sebagian masyarakat mengenai tafsir kejadian satu tahun ke depan yang tergambar pada kain kafan itu, pihaknya enggan berkomentar lebih jauh. “Tafsiran tergantung pribadi masing-masing. Kalau dari keluarga pemilik sendiri tidak pernah menafsirkan,”  ucapnya. (gun/laz)

Gunungkidul