RADAR JOGJA – Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menggeledah sebuah rumah kontrakan di Padukuhan Ngawu, Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen. Dari tempat kejadian perkara (TKP), pasukan elite yang menangani ancaman terorisme itu membawa sejumlah benda mencurigakan.

Informasi yang dihimpun Radar Jogja, Densus 88 tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 Rabu  (30/9). Rumah berbentuk limasan itu berhimpitan dengan  permukiman penduduk setempat. Selanjutnya petugas dengan senjata lengkap memasang pagar betis. Akses menuju TKP ditutup total dan baru dibuka kembali sekitar pukul 14.00.

Kapolres Gunungkidul AKBP Agus Setiawan saat dikonfirmasi membenarkan aktivitas Densus 88 di wilayah hukumnya. Meski demikian, pihaknya mengaku tidak bisa menyampaikan secara detail perihal kasus penggerebakan terhadap sebuah rumah di Ngawu itu.

“Polres hanya membantu melaksanakan pengamanan lokasi. Terkait detail kegiatan, langsung ke tim Densus 88 saja,” kata Agus Setiawan saat dikonfirmasi wartawan.

Sementara itu, Lurah Ngawu Wibowo Dwi Jatmiko mengaku diminta mendampingi kegiatan Densus 88 di lokasi kejadian. Dia menyampaikan, petugas menggeledah rumah kontrakan milik warga pendatang berinisial W. Rumah ini dihuni W bersama tiga anaknya.

“Mereka mengontrak sejak enam bulan terakhir. Tinggal di sini, secara administrasi masih kontrak. Dari KK-nya berasal dari wilayah Semarang,” ujar Dwi.

Meski ikut mendampingi polisi melakukan penggeledahan, ia mengaku tidak bisa menyampaikan secara rinci. Sepanjang yang diketahui, inisial W kini sudah tidak ada di rumah. “Saya hanya bertemu dengan istri (W) dan anak-anaknya di rumah,” ungkapnya.

Wibowo juga  tidak mengetahui secara detail apa saja yang dibawa petugas usai penggeledahan. Dia hanya melihat polisi antiteror itu membawa satu boks dari rumah tersebut dan diangkut ke mobil.

Terpisah, warga sekitar Mariyati mengungkapkan keseharian keluarga W tidak ubahnya warga setempat. Beraktivitas normal seperti berbaur saat ada acara kampung “Dia pedagang pakaian, sementara istrinya ibu rumah tangga dan tinggal di sini dengan status kontrak,” kata Mariyati.

Sepanjang yang diketahui, W memiliki tujuh anak. Tiga anak tinggal serumah di Ngawu, sisanya belajar di pondok pesantren. Pasca-kejadian ini pihaknya berharap agar situasi kembali normal. “Keluarga mereka kami kenal sebagai orang baik,” ucapnya. (gun/laz)

Gunungkidul