RADAR JOGJA – Memasuki puncak musim kemarau, belasan kapanewon mulai kesulitan mengakses air bersih. Karena bantuan pihak ketiga minim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul terus menguras anggaran kebencanaan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edi Basuki mengatakan, tahun ini telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 1.112 tangki atau 5.560.000 liter air. Warga penerima sasaran atau terdampak mencapai 128.838 jiwa.

“Dari hasil pendataan 14 kapanewon pada spot tertentu kekurangan air bersih,” kata Edi dihubungi Rabu (30/9).

Sebanyak 14 Kapanewon meliputi, Girisubo, Rongkop, Purwosari, Tepus, Ngawen, Ponjong, Semanu, Paliyan, Patuk, Semin, Nglipar, Gedangsari, Panggang, dan Kapanewon Tanjungsari. Dia menjelaskan dari 14 kapanewon terdampak ada sebelas kapanewon telah mengajukan dropping air bersih kepada BPBD Gunungkidul.

“Kemarau tahun ini berbeda dengan kemarau tahun sebelumnya, karena bantuan air bersih yang didapatkan dari pihak ketiga minim,” ujarnya.

Menurutnya, kemarau tahun ini dampaknya tidak lebih buruk dibanding periode sebelumnya. Namun demikian pandemi korona memaksa semua untuk siaga. Bahkan melalui surat keputusan (SK), bupati mengeluarkan Status Siaga Darurat Tahun 2020 10 Juni 2020 Nomor 235/KPTS/2020.

Saat pandemi seperti saat ini, bantuan dari pihak lain memang minim. Dropping air juga mundur dari tahun sebelumnya. Tahun lalu bulan Mei, sebutnya, sudah dilakukan dropping. Tahun ini, baru bulan Juli mulain dropping karena masih ada hujan pada Juni.

Sejauh ini, baru dua lembaga yang memberikan bantuan. ”Tetapi anggaran masih amanlah sampai Desember,” ujarnya.

Menurutnya, bulan ini merupakan puncak musim kemarau. Meski demikian bukan berarti tanpa hujan meskipun dengan intensitas rendah. Dropping air sendiri dilaksanakan sejak Juli. Setiap hari petugas menyalurkan sebanyak 20 tangki air ke wilayah sasaran. Pemkab Gunungkidul mengalokasikan dana sebesar Rp 700 juta untuk penanganan kekeringan.

Sementara itu, Dukuh Baturturu, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, Saryanta mengatakan, wilayahnya termasuk zona merah krisis air. Kondisi demikian diperparah dengan letak geografis perbukitan.

“Warga beeinisiatif menggali sumur kedalamam hingga 10 meter. Bahkan pernah menggali kedalaman 30 meter belum keluar air,” kata Saryanta. (gun/bah)

Gunungkidul