RADAR JOGJA – Warga Gunungkidul mulai akrab dengan Tim Detasemen Khusus (Desus) 88 Antiteror. Dalam rentang empat tahun terakhir, petugas elite yang menangani kasus terorisme ini telah menangani empat kasus di kabupaten berjuluk Handayani itu.

Kasus pertama pada 6 Juni 2017. Waktu itu di Padukuhan Jeruk, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari. Seorang warga Rahmad Septiyanto ditangkap saat perjalanan pulang usai berbelanja kebutuhan rumah di Pasar Argosari, Wonosari.

Kemudian tahun 2019,  tepatnya 20 November, Densus 88 kembali menggerebek sebuah rumah warga Padukuhan Ngunut Tengah, Desa Ngunut, Kecamatan Playen. Warga setempat, Markino diduga terlibat jaringan terorisme. Kala itu, Densus menyita bahan bom. Bahkan beberapa di antaranya dilaporkan sudah dirakit. Sedangkan lainnya masih dalam bentuk bubuk.

Lagi-lagi Densus 88 kembali melakukan penggerebekan di Gunungkidul. Pada 26 Desember 2019 satuan tim menyasar rumah Wasgiyono, 35, warga Teguhan Rt 04/12, Wunung, Wonosari. Dalam penggerebekan itu petugas mengamankan laptop, senapan angin, 13 buku, pedang, dan rompi. Wasgiyono diketahui sebagai warga setempat.

Terbaru Rabu  (30/9) di Padukuhan Ngawu, Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen. Warga tidak menyangka salah satu tetanggannya berurusaan dengan Densus 88. Keluarga W sehari-hari berjualan pakaian dari pasar ke pasar.

Seorang tetangga Maryati mengatakan, W dikenal masyarakat sebagai pendatang yang ramah. Setiap ada kegiatan sering ikut dan sering membaur. W merupakan pedagang pakaian di Pasar Playen dan Dlingo. “Pagi tadi (W) masih beraktivitas seperti biasa. Sabuhan berjamaah di masjid,” ungkapnya.

Namun setelah pagi menjelang siang, sudah tidak diketahui  keberadaannya seiring kedatangan petugas kepolisian dengan senjata lengkap. Untuk diketahui, lokasi penggeledahan kemarin hanya berjarak 500 meter dari lokasi penggeledahan satu rumah di Kalurahan Ngunut, November 2019 lalu. (gun/laz)

Gunungkidul