RADAR JOGJA – Jumlah sumber air di Gunungkidul terus berkurang. Penyebabnya karena faktor alam seperti gempa bumi hingga minimnya kesadaran masyarakat untuk merawat.

Pemerhati peduli  konservasi air dari Komunitas Resan, Edi Padmo mengatakan, kabupaten berjuluk Handayani sebenarnya memiliki banyak sumber air, namun sudah tidak terawat. Seperti di Kapanewon Nglipar.

“Memiliki 15 sumber air, namun saat ini yang masih berfungsi dengan baik hanya 5 sumber,” kata Edi Padmo.

Lainnya sudah tidak mengalir karena beberapa faktor seperti gempa 2006 hingga kurang terawatnya konservasi. Dari hasil penelusuran, selain Nglipar juga banyak sumber air mengering, di Mojosari, Kapanewon Playen.

“Ada beberapa mata air mengering. Padahal menurut cerita warga awalnya airnya cukup besar,” ucapnya.

Oleh sebab itu, dia mendorong masyarakat untuk menanam pohon beringin disekitar sumber air. Hasilnya, kesadaran masyarakat merawat sumber air mulai meningkat. Diakui tidak mudah mengajak masyarakat menanam beringin, karena terkadang lahan di sekitar terlanjur ditanami pakan ternak.

“Masalah air jika tidak diatasi sejak sekarang ke depan akan menjadi masalah sosial,” ungkapnya.

Dikatakan, Gunungkidul memiliki tiga karakter, yakni Batur agung sisi utara, Ledok tengah, dan pegunungan seribu, yang memiliki karakteristik sumber air berbeda. Pemerintah belum memiliki program jangka panjang untuk menyelesaikan persoalan kekurangan air.

“Kami juga menggandeng komunitas lain. Mereka menanam tanaman buah, seperti di Kalurahan Getas, Kapanewon Playen,” terangnya.

Menurutnya, sejauh ini sudah ada 13 komunitas dan pokdarwis yang digandeng.Mulai dari Kapanewon Playen, Gedangsari, Saptosari, Nglipar, dan Semin. Saat ini ada ratusan pohon yang beberapa tahun ke depan akan ditanam. Sudah ada beberapa lokasi  sumber mata air yang mulai ditanami pohon beringin.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gunungkidul, Aris Suryanto mengatakan, lingkungan mempengaruhi kualitas air. Semakin berkurangnya tanaman penahan sumber air, pencemaran limbah, pencemaran sampah juga turut andil memperburuk kualitas air.

“Hasil uji sampling air di Gunungkidul masih dalam ambang batas baik. Masih memenuhi syarat,” kata Aris Suryanto. (gun/bah)

Gunungkidul