RADAR JOGJA – Sebanyak 50 persen anak di bawah usia empat tahun di Gunungkidul tidak mengenyam pendidikan PAUD. Kebijakan belajar di rumah ditengah pandemi menjadi pertimbangan orang tua untuk mendidik anak sendiri ketimbang ikut lembaga PAUD non formal.

Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, Nani Asfiah mengatakan, penurunan minat ortu mendaftarkan anak belajar PAUD mencapai 35 persen dibanding tahun sebelumnya. Salah satu faktor penurunan sebagai akibat dari pandemi covid.

“Sementara 50 persen usia anak di bawah empat tahun tidak sekolah PAUD. Padahal pendidikan anak di usia dini sangat penting ditengah masa keemasan,” kata Nani Asfiah saat dihubungi belum lama ini.

Bukankah kalaupun mendaftar PAUD kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap di rumah? Menurut Nani, metode pembelajaran anak disesuaikan dengan kurikulum. Selama di PAUD, selain bermain juga dibekali ilmu persiapan menempuh jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD).

“Kami ingin menyiapkan anak agar siap ketika masuk SD. Di tengah pandemi dinas mengambil terobosan program momong bareng,” ujarnya.

Manfaat prrogram ini, secara otomatis si anak terdaftar dalam data pokok pendidikan (dapodik). Selain edukasi, melatih kemandirian, dan tumbuh kembang serta kemampuan mereka dapat mengakses dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) senilai Rp 600 ribu per anak.

“Semester pertama Rp 300 ribu, semester dua Rp 300 ribu,” ucapnya.

Pihaknya membuka peluang kepada ortu agar mendaftarkan anak sampai dengan Desember 2020. Program Momong sendiri embrionya dari Kapanewon Wonosari. Kemudian bekerjasama dengan kalurahan supaya segera mendaftar ke lembaga PAUD non formal.

“Saat ini terdapat 618 lembaga PAUD non formal. PAUD non formal terdiri dari tempat penitipan anak, kelompok bermain, satuan PAUD sejenis, bina keluarga balita, taman pembelajaran Alquran, serta taman binaan anak mingguan,” ungkapnya.

Menurut dia, hingga sekarang program penunjang pembelajaran murid PAUD baru berasal dari pusat. Sejauh ini pos anggaran dari provinsi maupun tingkat kabupaten belum ada.

“Jadi memang soal ketersediaan anggaran ya,” tuturnya.

Sementara itu, seorang warga Kapanewon Patuk, Slamet Budino mengakui pentingnya pendidikan PAUD. Meski sekarang tidak ada metode belajar tatap muka, namun belajar anak tetap terpantau. Setiap minggu ada tugas diberikan oleh guru untuk dikerjakan anak. Hasil pekerjaan anak dilaporkan melalui grup percakapan.

“Kalau sejak dini tidak diajari baca tulis dan yang lain, kasihan saat masuk SD. Kalau hanya kami yang mengajari anak repot. Terkadang anak kurang bisa fokus belajar,” kata Budi.

Terpisah, Kepala Disdikpora Kabupatan Gunungkidul, Bahron Rasyid mengatakan, kegiatan Momong Bareng direalisasikan tahun ini. Dia optimis program tersebut dapat terealisasi maksimal dan mendongkrak minat orang tua mendaftarkan anak ke PAUD.

“Setelah terdaftar bisa mengakses BOP dari APBN untuk menunjang pembelajaran,” kata Bahron. (gun/pra)

Gunungkidul