RADAR JOGJA – Beberapa hari belakangan, suhu udara di wilayah Jogjakarta dan sekitarnya terasa panas. Suhu temperatur yang dirasakan sekitar 33 sampai 36 derajat celcius. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca panas tersebut hanya berlangsung selama tiga hari.

Petugas BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Sleman, Aristya Ardhitama mengatakan, setiap hari perubahan cuaca diamati pada pukul 19.00 WIB. Data terbaru terpantau suhu maksimum 36 derajad celcius. “Biasanya suhu maksimum tercapai jam 2-3,” kata Aristya Ardhitama saat dihubungi Minggu (20/9).

Dia mengakui, suhu 36 derajat celcius tergolong tinggi. Cuaca panas ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, posisi dari gerak semu matahari pada saat ini tepat di garis ekuator (khatulistiwa).

Kedua, adanya pengaruh badai tropis Noul di Laut Cina Selatan, mengakibatkan kelembapan udara rendah, udara kering dan pembentukan awan di Jogjakarta juga rendah sehingga menyebabkan cuaca panas di Jogja dan sekitarnya.

“Ketiga, kelembaban rendah membuat tidak adanya awan (cuaca cerah/clear) membuat panas matahari langsung ke bumi,” ungkapnya.

Perubahan cuaca ini diprediksi berapa lama? Menurut dia tidak lama. Contoh, gerak semu matahari pada garis katulistiwa diprediksi tidak sampai berlangsung lama. “Diprediksi normal kembali dalam 3 hari atau besok (hari ini),” bebernya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, bulan ini merupakan puncak musim kemarau. Meski demikian bukan berarti tanpa hujan meskipun dengan intensitas rendah.

“Berdasarkan data hampir 130 ribu warga terdampak kekeringan,” kata Edy Basuki.

Tercatat sejak Agustus 2020, sebanyak 550 lebih tangki air telah didistribusikan ke wilayah terdampak. Dropping air sendiri dilaksanakan sejak Juli. Setiap hari petugas menyalurkan sebanyak 20 tangki air ke wilayah sasaran. Pemkab Gunungkidul mengalokasikan dana sebesar Rp 700 juta untuk penanganan kekeringan. (gun/bah)

Gunungkidul