RADAR JOGJA – Indeks udara di Gunungkidul masih baik. Namun setiap tahun kualitasnya terus mengalami penurunan. Jika tidak terkendali dikhawatirkan polusi udara  meningkat, dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Kasi Pengendalian Dampak Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Fitri Iswinayu mengatakan, salah satu upaya pengendalian adalah pengujian emisi kendaraan. Pada uji emisi Kamis  (17/9),  dari total 150 sepeda motor, 37 diantaranya dinyatakan tidak lulus.

“Asap kendaraan bermotor tidak terkendali memicu penurunan kualitas udara,” kata Fitri disela kegiatan kemarin.

Karena dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, harus dilakukan penanggulangan cepat dan tepat. Dengan uji emisi ini, selain mengurangi tingkat pencemaran udara, pemilik kendaraan dapat mengetahui kondisi kendaraan.

Sementara itu, Sekretaris DLH Gunungkidul, Aris Suryanto mengatakan, tahun ini pelaksanaan uji emisi kendaraan baru dilakukan dua kali atau lebih sedikit jika dibanding tahun sebelumnya. Pada  2019, uji emisi berlangsung sampai empat kali. “Semua ini karena pandemi Covid-19.” kata Aris.

Dikatakan, uji emisi dilakukan untuk mengetahui kualitas udara di Gunungkidul. Harapannya bisa merumuskan kebijakan tepat dalam penanggulangan polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor.

“Pemeriksaan kendaraan dilakukan dengan tim gabungan dari Balai Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIJ,” ujarnya.

Mantan Pejabat Pengelola Informasi daerah (PPID) RSUD Wonosari ini menuturkan, lingkungan juga mempengaruhi kualitas air. Semakin berkurangnya tanaman penahan sumber air, pencemaran limbah, pencemaran sampah juga turut andil memperburuk kualitas air.

“Hasil uji sampling air di Gunungkidul masih dalam ambang batas baik. Masih memenuhi syarat,” ungkapnya.

Kretria air memenuhi syarat tidak berbau, jernih, tidak berasa, suhu normal dan total dissolved solid (TDS) normal. Dia menjelaskan, air berbau disebabkan proses penguraian bahan organik yang terdampat di dalam air.

“Tidak berasa adalah air yang tidak tawar mengindikasikan adanya zat-zat tertentu di dalam air,” ujarnya.

Kemudian suhu air tidak boleh memiliki perbedaan suhu yang mencolok dengan udara sekitar (udara umbien). Lalu TDS adalah bahan terlarut. Jika TDS bertambah, maka kesadahan akan naik. Kesadahan mengakibatkan terjadinya endapan. (gun/bah)

Gunungkidul