RADAR JOGJA – Memasuki musim kemarau, sejumlah warga yang tinggal di zona utara Gunungkidul mulai kesulitan air bersih. Mereka terpaksa menggali sumur untuk mencari sumber air bersih. Seperti di Kapanewon Gedangsari, penduduk ramai-ramai menggali batu cadas hingga kedalaman 10 meter.

Kepala Dukuh Baturturu, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari, Saryanta mengatakan, wilayahnya termasuk zona merah krisis air. Kondisi demikian diperparah dengan letak geografis di perbukitan. “Kami bersama dengan warga dibantu Bripka Nur Ali Suwandi (anggota Provost Polda DIJ) belum lama ini menggali sumur,” kata Saryanta saat dihubungi Selasa (7/7).

Kedalaman sumur sampai keluar air bervariasi. Ada yang enam meter. Delapan meter dan 10 meter. Bahkan pernah menggali hingga kedalaman 30 meter belum keluar air.  “Jadi sebenarnya, ini sumur lama kemudian digali lagi untuk mendapatkan sumber air,” ujarnya.

Penduduk berjibaku menggali batu cadas secara bergotong royong. Letaknya di tengah persawahan tidak jauh dari permukiman. Setelah sumber air ditemukan dan ke depan bisa diangkat dengan menggunakan mesin pompa. “Sebenarnya wilayah kami ini banyak sumber air, tetapi kesulitan mengangkat ke permukaan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, bantuan dari pihak terkait sangat dibutuhkan dalam upaya mencukupi kebutuhan air bersih. Apakah sudah ada droping air dari pemerintah? Kata Saryanta selalu ada di setiap musim kemarau. “Hanya persoalannya lokasi kami berada di perbukitan. Padukuhan Baturturu ini puncak tertinggi di wilayah Kalurahan Mertelu,” ucapnya.

Sekali dua kali pernah ada kiriman droping menggunakan truk tangki sampai ke wilayahnya. Namun tidak berlanjut karena sopir tidak berani mengingat jalan ekstrem. Letak geografis wilayah ini yang naik turun menjadi pertimbangan. “Tapi bagi kami sudah biasa. Jalannya bagus. Tapi memang naik turun. Kalau bukan kendaraan teruji tidak berani naik,” terangnya.

Menurut dia, wilayahnya terdiri dari 130 kepala keluarga (KK) dan dihuni lebih dari 400 jiwa. Karena air merupakan kebutuhan dasar, mau tidak mau harus bekerja keras untuk mendapatkannya.”Kepada pihak terkait yang telah memberikan bantuan, kami ucapkan terima kasih,’’ ujarnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edi Basuki mengaku telah berkoordinasi dengan tingkat kecamatan diteruskan kalurahan terkait penanganan air bersih ini. “Ini penting guna mengantisipasi kerawanan Covid-19 di tengah musim kemarau,” kata Edy Basuki.

Hal tersebut dikaitkan dengan keperluan warga mencuci tangan. Dia berharap kapanewon berkoordinasi dengan lurah untuk membuat daftar wilayah kekurangan air. Di antara wilayah memiliki anggaran sendiri untuk dropping, seperti Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Paliyan, Panggang, Purwosari, Patuk, Gedangsari, dan Ponjong. (gun/din)

Gunungkidul