RADAR JOGJA – Di tengah arus impor, petani Gunungkidul digenjot mengembalikan produksi bawang lokal. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah setempat menggelontorkan bantuan benih lokal varietas lumbu putih.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengatakan, komoditas bawang putih lokal harus terus dikembangkan. Saat ini baru wilayah Kapanewon Playen. “Kami berupaya menawarkan kepada kelompok tani lain. Saat ini kami sudah memiliki sekitar 70 kilogram benih bawang putih. Benih 35 kg mampu menghasilkan produksi 217 kg,” kata Wisnu Selasa (16/6).

Di Playen, petani yang mengembangkan dari kelompok Gemah Ripah,  Kelurahan Logandeng, Playen. Bahkan, terus berkembang hingga ke wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah.  “Jika bawang putih lokal kalah bersaing dengan impor karena ukuran, namun dalam segi rasa jauh lebih beraroma bawang putih lokal,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kelomok Tani Gemah Ripah, Sugiman, 63, mengatakan, bawang putih lokal masih bertahan dari gempuran bawang putih impor. Kendalanya soal cuaca. Badai siklon Cempaka menyebabkan tanaman rusak dan umbi membusuk. “Terjadi gagal panen dalam skala besar di lokasi penanaman di Bulak Suren Plembon Lor dan Bulak Belik, Logandeng, Logandeng,” kata Sugiman.

Warga, jelasnya, kemudian tidak menanam bawang putih, dan menggantinya dengan tanaman lain. Belakangan, sisa-sisa benih lokal kembali dikembangkan. Dua tahun lalu dari dua kelompok tani terkumpul 35 kilogram bawang putih. “Kemudian dijadikan benih. Saat dipanen dari 35 kilogram menjadi 217 kilogram,” ujarnya. (gun/bah)

Gunungkidul