RADAR JOGJA – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Gunungkidul terus menggencarkan rapid test. Dari hasil tes massal tersebut diketahui tujuh tenaga medis Puskesmas Paliyan dinyatakan reaktif.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Pemkab Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan, ada kreteria khusus rapid test massal. Tenaga medis termasuk diantaranya menyusul tracing jamaah tabligh, orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), tracing Indogrosir dan tracing warga yang melakukan kontak langsung pasien positif. “Ketujuh tenaga medis langsung melakukan isolasi mandiri,” kata Dewi Irawati kemarin (15/5).

Dia memastikan, munculnya tujuh kasus tenaga medis reaktif tidak berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan. Pihaknya menjamin pelayanan kesehatan di puskesmas tersebut masih aman. “Layanan kesehtaan buka seperti biasa,” jelasnya.

Dewi meminta masyarakat tetap tenang dan tidak perlu takut ke berkunjung Puskesmas Paliyan. Sebab, protokol kesehatan dan lainnya dilakukan dengan baik. Hingga kemarin jumlah warga positif hasil rapid test sebanyak 106 warga. Sedangkan warga dengan status orang tanpa gejala (OTG) yang karantina di RSUD Saptosari sebanyak 9 orang. “Stok (rapid test) terus berkurang dan sedang dalam proses pengadaan,” ucapnya.

Menurutnya, hasil rapid test tidak bisa menjadi acuan utama terinfeksi Covid-19. Tes cepat dibutuhkan untuk antisipasi agar penyebaran tidak semakin luas. Sementara untuk kasus positif harus melalui tes swab.
Sementara itu, Kepala Bidang Penyebaran dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro mengatakan, saat ini sedang menargetkan 2.000 rapid test korona. Sasaran belum menyeluruh ke masyarakat secara umum karena tes difokuskan untuk pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), tenaga mendis, pekerja migrant hingga masyarakat yang kontak dengan pasien positif. “Bagi warga reaktif hanya dilakukan sekali pengetesan karena akan dilanjutkan tes swab guna memastikan,” kata Sumitro. (gun/bah)

Gunungkidul