RADAR JOGJA – Di tengah pandemi korona, muncul Surat Edaran (SE) Gubernur DIJ tentang pencegahan Covid-19. Akibatnya, camp assessment milik Dinas Sosial (Dinsos) DIJ yang berfungsi sebagai Unit Gawat Darurat (UGD) sosial tersebut kini tidak lagi menerima rujukan dari luar.

Keberadaan geladangan dan pengemis (gepeng), anak jalanan (anjal) serta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masih berada di jalanan nyaris tidak terurus. Baru-baru ini Dinsos Kabupaten Gunungkidul mengamankan dua orang. Dimana, satu ODGJ ditemukan di Semin, dikembalikan kepada keluarga di Kecamatan Rongkop. ”Di Getas, Playen ODGJ ngamuk dibawa ke Grasia oleh Baznas,” kata  Kepala Seksi (Kasi) Bina Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gunungkidul Winarto saat dihubungi Rabu (30/4).

Keberadaan SE Gubernur DIJ nomor 433/4956, tanggal 17 Maret 2020, tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negera dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di lingkungan Pemprov DIJ, memang membawa dampak. “Saya monitor melalui Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK) mengenai gepeng, anjal maupun ODGJ yang berada di jalanan, tapi dana evakuasi tidak ada,” ujarnya.

Anggaran saat ini, baru dalam proses karena dana yang ada digunakan untuk mendukung penanganan dampak Covid-19. Belum lagi SE tentang camp asesmen yang tidak lagi menerima rujukan gepeng dan anjal. Serta pemulangan ke daerah asal dihentikan karena virus korona. “Kami tidak punya selter. Sementara dana penjangkauan juga dipangkas,” ucapnya.

Saat ini pihaknya masih bergantung melalui anggaran kedaruratan. Hanya, diakui sampai dengan saat ini pemkab masih dalam poses penganggaran sehingga belum boleh melakukan pencairan dana. Sehingga, baik ODGJ, Gepeng, dan anjal yang sudah berada di camp asesment masih ditangani.

Dijelaskan, keberadaan UGD sosial itu  sebagai penyembuhan. Setelah dinyatakan sehat, pasien dikirim ke daerah asal. Akan tetapi pada prinsipnya camp asesment adalah untuk pelayanan. “Mana yang harus lansung dibawa ke Grasia dulu dan mana yang bisa di asesment di camp guna tindakan pelayanan lanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Saptosari, Sadilem mengatakan, penanganan ODJ pascaevakuasi tidak mudah. Setiap hari ODGJ harus mengonsumsi obat, padahal latar belakang pasien berbeda-beda. “Tidak sampai disitu, memberikan pemahaman kepada keluarga ODGJ juga sulit. Sosialisasi terus digencarkan,” kata Sandilem. (gun/bah)

Gunungkidul