RADAR JOGJA – Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bulan depan mulai musim kemarau. Demi meminimalisiasi dampak krisis air, Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul menaikkan anggaran penanggulangan.

“Tahun ini musim kemarau dipredisi mulai akhir Mei atau awal Juni,” kata Pelaksana BPBD Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki saat dihubungi Minggu (12/4).

Berdasarkan pemetaan, hampir semua wilayah terdampak kekeringan. Akan tetapi ada beberapa kecamatan prioritas penerima sasaran bantuan droping air. Meliputi Kecamatan Girisubo, Paliyan, Rongkop, Tepus, Tanjungsari dan Kecamatan Panggang. “Tahun ini alokasi anggaran Rp 900 juta,” ujarnya.

Dibanding tahun sebelumnya jumlah dana ada kenaikan signifikan. Di 2019 alokasi anggaran sebesar Rp 538 juta tidak mencukupi. Dampak kekeringan meluas. Pemkab akhirnya menetapkan status darurat kekeringan, karena kemarau berkepanjangan. “Anggaran Rp 900 juta tahun ini menggunakan APBD Kabupaten Gunungkidul,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Tanjungsari Rahmadiyan  mengatakan, dari tahun ke tahun beberapa desa di wilayahnya terdampak krisis air. Seperti Desa  Banjarejo, Kemiri, Kemadang, Ngestirejo, dan Desa Hargosari.

“Desa Banjarejo tahun lalu droping air dari BPBD Gunungkidul, sementara penyaluran empat desa lainnya ditangani pemerintah kecamatan,” kata Rahmadiyan.

Dikatakan, jika melihat data 2019 sebaran krisis air di Tanjungsari cukup parah. Ada peningkatan jumlah droping air mencapai 125 tangki. Oleh sebab itu sebagai langkah antisipasi di tahun ini pihaknya memutuskan menambah anggaran droping. Tahun ini disiapkan 180 tangki air bersih. “Kalau sekarang belum ada permohonan bantuan droping air dari desa, masih aman,” ungkapnya.

Di bagian lain, dari sektor pertanian berkurangnya curah hujan pada musim tanam padi kedua 2020 juga mulai diantisipasi. Karena berpengaruh terhadap perkembangan tanaman, petani diminta menanam palawija.

“Kami meminta kepada petani untuk tidak lagi fokus penanaman komoditas padi pada musim tanam kedua. Lahan bisa dimanfaatkan untuk palawija, kacang hijau atau kedelai,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono. (gun/laz)

Gunungkidul