RADAR JOGJA – Di tengah pandemi korona, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul masih mewaspadai demam berdarah dengue (DBD). Data tiga bulan terakhir jumlahnya melampaui angka 600 orang. Pergerakan grafiknya tergolong cepat, karena hanya dalam tempo dua pekan ada penambahan 75 kejadian.

Pada 25 Maret 2020 masih di angka 558 kasus dan masuk per 7 April 2020 datanya berubah menjadi 635 orang terkena gigitan nyamuk aedes aegypti. Empat di antaranya meninggal dunia. Jika dibandingkan dengan triwulan pertama 2019, peningkatan sangat mencolok. Tahun lalu di tiga bulan awal, jumlah kasus baru sebanyak 192 warga positif DBD.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit Dinkes Kabupaten Gunungkidul Sumitro mengatakan, sebaran wilayah endemik DBD tidak mengalami perubahan. Yakni, Kecamatan Karangmojo, Ponjong, Wonosari dan Patuk. Kecamatan Wonosari tertinggi yakni mencapai lebih dari 70 kasus. “Belum ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa), karena masih bisa dikendalikan,” kata Sumitro saat dihubungi Selasa (7/4).

Hanya diakui, penanganan DBD berbarengan dengan Covid-19 sehingga memerlukan kerja ekstra dari petugas maupun masyarakat. Pihaknya tak henti-hentinya mengimbau agar masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Pencegahan DBD bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti fogging hingga PSN dengan program 3M (mengubur, menguras dan menutup) tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. “Fogging hanya menyasar nyamuk dewasa. PSN paling efektif sebagai upaya pencegahan. Jika tidak, telur atau jentik dalam lima hari akan menjadi nyamuk sehingga bisa menularkan DBD, meski sudah dilakukan fogging,” ungkapnya.

Sementara itu, adanya peningkatan DBD berpengaruh terhadap layanan Palang Merah Indonesia (PMI) Gunungkidul. Terjadi peningkatan permintaan darah hingga sekitar 25 persen. Sejak Covid-19 mewabah, jumlah pendonor berkurang. “Biasanya sehari 15 sampai 20 orang sekarang hanya tiga sampai empat orang pendonor,” kata Ketua PMI Gunungkidul Iswandoyo.

Adanya kesulitan ini pihaknya terus berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dengan desa dan instansi. Adapun untuk stok darah hanya tersedia dua golongan, yakni golongan darah O sebanyak 25 kantong, dan AB 10 kantong. (gun/pra)

Gunungkidul