RADAR JOGJA – Tingginya tingkat konsumsi tahu-tempe membuka peluang pasar bagi para petani di Gunungkidul. Namun pemkab setempat mengingatkan kepada petani dan pelaku usaha untuk menggunakan kedelai lokal.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto  mengatakan, usaha pertanian tanaman kedelai menjanjikan. Salah satu buktinya ada di wilayah Kecamatan Nglipar. Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari dan Poktan Sumber Rejeki Blembeman II, Desa Natah, setahun bisa tiga kali. “Desa Natah khususnya Padukuhan Blembeman II bisa dikatakan daerah sentra kedelai,” kata Bambang WIsnu Broto Rabu(26/2).

Bagaimana dengan hasilnya? Dijelaskan jika dihitung secara materi pendapatan petani dari hasil panen tumpangsari jagung dan kedelai pada musim sekarang bisa mencapai Rp 31 juta rupiah untuk setiap hektar. “Dalam setahun bisa mencapai Rp 90 juta per hektar. Artinya, peredaran uang di pedesaan sangat besar,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan kedelai untuk kebutuhan konsumsi khususnya produksi tahu tempe sangat besar. Namun disatu sisi petani di luar Desa Natah, banyak yang enggan menanam kedelai sehingga luas tanam kedelai di Gunungkidul terus menurun. “Harapan kami kedelai konsumsi berasal dari kedelai lokal bukan kedelai impor. Sebab, kedelai lokal lebih sehat serta lebih enak,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua KWT Lestari, Sukiyem mengatakan, pada musim tanam pertama 2020 berhasil panen perdana kedelai seluas 5 hektare. Varietas kedelai yang dipanen Grobogan umur 75 hari dengan benihn diperoleh swadaya. “Ada juga varietas lain berupa varietas anjasmoro umur panen 85 hari bantuan dari BPTP DIJ sebanyak 200 kilogram,” kata Sukiyem.

Penanaman dilaksanakan 10 Desember tahun lalu. Pola tanam yang digunakan yakni pola tumpangsari jagung dan kedelai. Untuk satu hektar dibutuhkan benih jagung hibrida 10 kilogram dan benih kedelai 40 kilogram. Pada ubinan panen kedelai varietas Grobogan di dua tempat diperoleh angka ubinan  1,3 ton per hektar dan 1,1 ton per hektar atau rata rata 1,2 ton per hektar kedelai.

Terpisah, Ketua Paguyuban Industri Tahu Sari Mulyo, Satiyo mengatakan, kedelai impor menjadi idola, karena kualitas jauh lebih bagus. Minimnya ketersediaan kedelai di Bumi Handayani menjadi alasan bagi para pengusaha sehingga melirik bahan baku dari luar.

“Ketidakmampuan hasil produksi kedelai dari petani lokal untuk mencukupi bahan baku produksi sudah berlangsung sejak lama,” kata Sakiyo. (gun/bah)

Gunungkidul