RADAR JOGJA – Prospek pengembangan budidaya tanaman kayu putih di Gunungkidul menjanjikan. Wilayah ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai sentra budidaya tanaman minyak kayu putih.

Di sisi lain, berdasarkan data Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan antara kebutuhan dan hasil produksi njomplang.

Kebutuhan bahan baku minyak kayu putih di Indonesia per tahun mencapai 3.500 ton. Namun dari sisi produksi tanaman yang ada baru mencapai 600 ton per tahun. Sehingga untuk pemenuhan produksi harus melalui impor. Padahal pohon kayu putih merupakan tanaman endemik di Indonesia. Sedangkan untuk kebutuhan farmasi dan dan obat-obatan, produsen harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri hingga 85 persen.

“Yang diimpor adalah minyak ekaliptus kandungan sama dengan kayu putih. Selama ini produsen untuk membuat obat-obatan dan farmasi berbahan kayu putih masih bergantung dengan produksi luar negeri,” kata Peneliti dari BBPPBPTH Kementerian LHK Anto Rimbawanto dalam acara penanaman bibit unggul pohon kayu putih di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) petak 95 di Dusun Kepek I, Banyusoco, Playen.

Penanaman ini dilakukan bersama Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dia berharap pengembangan benih unggul dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, Indonesia bisa menjadi swasembada minyak kayu putih. Sehingga tidak perlu mengimpor bahan baku dari luar negeri. “Targetnya dalam sepuluh tahun kapasitas produksi bisa mencapai 3.000 ton per tahun agar kebutuhan bisa dicukupi dari dalam negeri,” ujarnya.

Menteri Riset dan Teknologi dan Kepala Balai Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menyambut baik pengembangan minyak kayu putih bibit unggul dar BBPPBPTH. “Semoga program ini dapat mengurangi kebutuhan impor bahan baku minyak kayu putih di Indonesia,” kata Bambang.

Menurut dia, pengembangan yang dilakukan dengan model inti plasma sangat positif karena para petani terus berikan pendampingan. Kemudian sudah ada perusahaan yang akan membelinya pada saat panen.  “Terpenting harus dijaga kualitasnya. Saya yakin apabil program inti plasma jika dikembangkan bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” ujarnya.

Bupati Gunungkidul Badingah berharap dengan penanaman ini dapat berperan dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Dengan begitu hasilnya bisa bermanfaat untuk mensyarakat luas. (gun/din)

Gunungkidul