Petani pernah merasakan lelah dan waktunya terkuras habis saat memasuki awal musim tanam? Kini tak perlu khawatir. Karena sudah ada teknologi mempermudah proses tanam dengan durasi tanam super cepat dengan hasil produksi menjanjikan. Nama alatnya, Atabela.

GUNAWAN, Gunungkidul, Radar Jogja

Adalah Jayadi, warga Kernen, Ngunut, Playen,  yang menciptakan alat tersebut.  Atabela kepanjanagn dari alat tanam benih langsung. Dirakit sekitar September 2019, sengaja dirancang untuk penanaman dengan sistem jajar legowo pada lahan kering. Selama ini sistem jajar legowo biasanya diterapkan di sawah. Hadirnya Antabela diharapkan menjadi solusi  tetap bisa eksis di lahan kering.

Soal kecepatan durasi tanam, jangan diragukan lagi. Jika masih menggunakan metode tanam padi sistem ponjo (tuggal) pada lahan seluas 1.000 meter persegi, tenaga kerja dua orang membutuhkan waktu dua hari. Namun dengan Atabela, menanam padi seluas 1.000 meter persegi cukup  tiga jam dengan tenaga dua orang saja.

“Alat ini sengaja dibuat untuk meringankan beban pekerjaan petani menanam padi,” kata sang pencetus Atabela, Jayadi, saat ditemui Radar Jogja kemarin (3/12).

Dia menjelaskan, alat itu juga sengaja disesuaikan dengan kondisi lahan kering di Gunungkidul. Dengan berat sekitar 20 kg, sangat memungkinkan untuk berpindah tempat. Modal yang dikeluarkan untuk pembuatan alat ini mencapai Rp 1,8 juta.

Atabela berukuran tidak terlalu besar. Di tengah Atabela ada semacam tabung yang diisi benih padi. Samping kanan kiri terdapat roda kecil mirip dengan roda traktor, dan di bawahnya ada semacam besi berfungsi mencangkul tanah. Kemudian bagian belakang ada besi berfungsi menutup tanah yang telah dicangkul. “Cara kerjanya sangat simpel, hanya membutuhkan dua orang operator,” terangnya.

Satu orang mendorong Atabela dan satu orang lainnya menarik ke depan. Selanjutnya otomatis benih jatuh ke tempat yang telah tercangkul. Selain efektif, penggunaan alat juga diyakini bisa meningkatkan produksi tanaman hingga 30 persen.

Jajar legowo adalah cara tanam dengan memberikan jarak pada kanan dan kirinya sekitar 40 centimeter. Sedangkan jarak tanam pada depan belakang diperpendek menjadi 10 centimeter,” bebernya.

Dengan adanya jarak tersebut, membuat sinar matahari masuk lebih maksimal. Terlebih, hama seperti tikus tidak menyukai tempat terbuka. Kehebatan lainnya, untuk membuat Atabela juga tidak memakan waktu lama. Kurang lebih satu hari, satu Atabela sudah jadi.

“Ke depan saya berencana membuat Atabela dengan menggunakan mesin, agar petani lebih mudah dan cepat saat menggarap sawah,”  ujarnya. (laz)

Gunungkidul