Minim Sosialisasi Asuransi Gagal Panen

GUNUNGKID – Program asuransi gagal panen belum tersosialisasi dengan maksimal di Gunungkidul. Itu terbukti masih banyak petani kebingungan ketika ditanya mengenai program ganti rugi dari pemerintah atas gagal panen yang mereka alami.

Ha itu terjadi di Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, misalnya. Lahan pertanian di wilayah tersebut banyak yang masuk dalam daftar gagal panen. Dari total gagal panen seluas 25 hektare di Kecamatan Gedangsari, Desa Ngalang menyumbang 9 hektare.

”Belum lama ini ada petugas dari dinas melakukan pendataan lahan gagal panen di wilayah kami,” kata Kades Ngalang Kadri.

Pertaian di desa yang secara geografis berupa perbukitan itu hanya mengandalkan air tadah hujan. Jika musim kemarau seperti sekarang, lahan pertanian kekurangan air. Hanya lahan dekat sumber air yang pengairannya cukup.

”Sumber air di sungai juga telah mengering. Kalaupun panen, bisa dipastikan tidak maksimal dan (batangnya) hanya untuk pakan ternak,” ujarnya.

Itu artinya potensi puso sangat besar. Apakah pernah mendapatkan sosialisasi mengenai program asuransi gagal panen? Kadri menjawab belum ada. Padahal, jika program tersebut terealisasi diyakini mendapat meringankan beban petani.

”Saya tidak tahu mengenai sosialisasi asuransi gagal panen. Apa mungkin desa kami menunggu giliran?” ucapnya.

Wilayah lain dengan tingkat potensi gagal panen terbesar adalah Kecamatan Patuk. Di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul tersebut, setidaknya terdapat 194 hektare lahan pertanian terancam puso.

Petani setempat, Haryadi, membenarkan perihal potensi besar gagal panen. Warga Desa Putat itu menyatakan separo dari dua bidang lahan padi milikinya mengering dan dipastikan tidak bisa dipanen.

”Terlihat batang ada yang hijau memang. Tetapi, kalau air kurang, lama-lama mengering dan mati,” kata Haryadi.

Disinggung mengenai asuransi gagal panen, dia mengaku tidak tahu. Dia menegaskan siap bergabung jika program itu memang ada.

Menurut Haryadi, asuransi di sektor pertanian dibutuhkan oleh petani. Sebab, pertanian memiliki risiko cukup tinggi.

Terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharjo Yuwono mengatakan, ada persyaratan khusus yang harus dilalui oleh petani untuk ikut asuransi gagal panen. ”Salah satunya, pengusulan dilakukan maksimal tanggal 10 pada awal musim tanam melalui pendamping,” katanya.

Petani yang ikut program asuransi akan mendapat kompensasi sebesar Rp 6 juta hingga Rp 6,5 juta per hektare jika jika mengalami gagal panen akibat bencana alam atau serangan hama. Petani cukup membayar Rp 36 ribu. Sisa dari total premi sebesar Rp 138 ribu disubsidi pemerintah.

Minimal pengajuan asuransi dengan luas lahan satu hektare. Pengajuan bisa melibatkan kelompok tani. Target luas lahan kepesertaan program asuransi tahun ini mencapai 500 bidang. ”Kami pernah sosialisasi namun minat masyarakat petani minim,” ujarnya. (gun/zl)

Gunungkidul