GUNUNGKIDUL – Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Jogjakarta mengenalkan dua varietas bibit padi sekaligus. Yakni, Segreng dan Inpari 24. BPTP mengklaim dua varietas tersebut mampu menjadi solusi bagi para petani di Bumi Handayani.

Segreng, misalnya. Varietas ini tahan terhadap kekeringan. Bahkan, bisa ditanam dengan kondisi suplai air terbatas. Sedangkan keunggulan varietas Inpari 24 terletak pada masa tanam. Varietas ini bisa dipanen ketika berusia 104 hari. Lebih pendek 17 hari dibanding varietas padi lainnya.

Kepala BPTP Jogjakarta Joko Pramono menyebut beberapa kecamatan di Gunungkidul kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau. Dengan begitu, varietas Segreng dan Inpari 24 menjadi solusi bagi area pertanian yang sulit air. ”Agar hasil panen (di Gunungkidul) lebih optimal, kami akan memetakan wilayah kekeringan,” jelas Joko Pramono di sela penanaman padi di Desa Dengok, Patuk Jumat (5/4).

Dalam kesempatan itu, Joko juga memperkenalkan teknologi tanam jajar legowo super. Tujuannya, agar produktivitas padi lebih maksimal. Lantaran teknologi ini membuat seluruh tanaman padi tinggi. ”Karena ada border effect-nya. Biasanya, tanaman di pematang yang paling tinggi,” ucapnya.

Kendati begitu, Joko menyebut ada beberapa komponen yang harus terpenuhi dalam penerapan jajar legowo super. Di antaranya, penggunaan varietas unggul dan benih mengandung pupuk hayati. Agar pertumbuhan tanaman terhindari dari serangan hama. ”Penanamannya juga menggunakan mesin,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengaku tidak terlalu khawatir pada saat musim tanam kedua. Suplai air mencukupi. Selain memanfaatkan sungai, dinas juga telah memberikan bantuan berupa pompa air.
”Dari target 55.888 hektare, 51.385 hektare yang sudah ditanami. Sebagian sudah panen. Hasillnya cukup baik,” klaimnya. (gun/zam/mg4)

Gunungkidul