GUNUNGKIDUL – Tiga kepala keluarga (KK) yang tinggal di sekitar perbatasan Gunungkidul dengan Klaten, Jawa Tengah kesulitan mengakses jaringan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tiga KK yang tinggal di Dusun Sambeng V, Sambirejo, Ngawen, ini mbendeng (nebeng) aliran listrik warga yang berlangganan PLN.

Namun, jarak antara rumah empat KK dan pemilik meteran listrik itu lumayan jauh. Sekitar satu kilometer. Meski, rumah Ngadino, pemilik meteran listrik itu masih berada di wilayah Dusun Sambeng V.

”Jika listrik mati ya harus menempuh jarak satu kilometer untuk menyalakan meteran,” tutur Antonius Slamet, seorang warga Dusun Sambeng V di rumahnya Jumat (16/11).

Dalam semalam, Slamet bisa berulang kali menempuh perjalanan pulang pergi ke rumah Ngadino. Hanya untuk ngaruhke sakelar meteran. Daya listrik yang hanya 450 watt tak kuat untuk digunakan berbagai hal. Termasuk di antaranya untuk alat pertukangan. Belum lagi panjangnya kabel sambungan dari rumah Ngadino ke warga lainnya juga mengurangi daya.

”Karena terlalu sering mati ya nggak enak. Akhirnya harus ke sana,” ucap pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang kayu ini.

Slamet pernah berupaya mengajukan pemasangan jaringan listrik kepada biro teknis listrik (BTL) di wilayahnya. Namun, BTL mensyaratkan untuk pemasangan instalasi listrik harus juga membayar pengadaan tiangnya.

”Saya yang hanya orang desa bingung harus mengadu ke mana,” keluhnya.

Baginya, suplai aliran listrik tidak sekadar sebagai lampu penerangan. Lebih dari itu, juga untuk menunjang usahanya. Industri mebel rumahan miliknya butuh aliran listrik yang memadai. Dari itu, Slamet berharap PLN dapat mempermudah pemasangan sambungan.

”Alat-alat pertukangan sekarang menggunakan listrik semua,” tambahnya.

Supervisor Pelayanan Pelanggan dan Administrasi PLN Wonosari Triyono sudah mengetahui persoalan ini dari media sosial. Dia meminta warga Dusun Sambeng V mengajukan permohonan ke PLN Wonosari.

”Dengan membawa dokumen yang dibutuhkan, seperti KTP. Semoga bisa diproses untuk pemasangan jaringan,” katanya. (gun/zam/by/mg3)

Gunungkidul