GUNUNGKIDUL – Kemandirian energi ditunjukkan sebagian warga Pedukuhan Ngemplak, Piyaman, Wonosari. Sejak beberapa tahun memilih memanfaatkan tenaga matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik. Penggunaan energi terbarukan ini lebih hemat dibanding mengandalkan pasokan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN).
”Hemat hingga 50 persen,” jelas Muhammad Awab, pemrakarsa listrik tenaga surya, Kamis (23/8).

Ide pemanfaatan tenaga surya dimulai Awab, sapaannya, pada 2006. Saat itu, warga Pedukuhan Ngemplak ini memanfaatkan panel surya. Yang menarik, Awab tidak menikmati listrik “gratis” sendiri. Dia juga menyalurkannya kepada sejumlah tetangganya.
”Saya ingin agar semua bisa menikmati tenaga listrik bertenaga matahari,” tuturnya.

Seiring waktu berjalan, Awab juga berbagi ilmu kepada warga sekitar. Toh, Peralatan yang diperlukan sangat simpel. Yakni, panel tenaga surya, aki, controller, dan inventer. Begitu pula dengan biaya yang dikeluarkan. Hanya di kisaran Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.

Hingga sekarang tercatat ada 15 rumah yang menggunakan tenaga listrik matahari. Saking melimpahnya energi, seluruh lampu penerangan jalan juga menggunakan tenaga matahari.
”Cara kerjanya juga simpel. Panel surya ditaruh di atas atap rumah,” ucapnya.
Dwi Wartono, seorang warga mengungkapkan, penggunaan listrik tenaga surya lebih hemat dibanding dengan listrik PLN. Sebelum menggunakan listrik tenaga matahari per bulan membayar tagihan rekening listrik hingga Rp 100 ribu. Sekarang hanya Rp 50 ribu.
”Sekarang lebih irit biaya,” tambahnya.

Selama ini, Dwi menceritakan, menimba banyak ilmu dari Muhammad Awab. Tidak hanya soal energi terbarukan, tapi juga tata cara menghemat listrik. (gun/zam/mg1)

Gunungkidul