GUNUNGKIDUL – Rentetan kasus bunuh diri di awal tahun ini cukup memprihatinkan. Menyikapi persoalan tersebut Pemkab Gunungkidul merumuskan beberapa rekomendasi melakukan pencegahan.

Ketua satgas berani hidup Immawan Wahyudi merekemondasikan puskesmas untuk menyiapkan psikolog. Keberadaan psikolog menjadi vital dalam upaya pencegahan kasus bunuh diri.
“Penempatan psikolog untuk mengidentifikasi dan pencegahan. Namun selama ini puskesmas belum memperhatikan hal tersebut,” kata Immawan kemarin.

Puskesmas merupakan garda terdepan dalam kesehatan masyarakat terkait antisipasi bunuh diri. Diperlukan pengamatan dini secara psikologis di puskesmas.

“Kemudian dalam jangka menengah diperlukan cara yang lebih komunikatif dengan warga. Salah satunya melalui tokoh agama yang terus melakukan sosialisasi melalui kegiatan keagamaan,” ujar Immawan.

Dari beberapa kesaksian masyarakat yang gagal melakukan bunuh diri ada bisikan gaib. Masyarakat yang mendengar keluhan dari seseorang yang mendapatkan bisikan perlu respons cepat, sehingga perlu ditangani.

Sementara itu, anggota satgas berani hidup, Ida Rochmawati mengatakan tren bunuh diri setiap tahun mengalami pergeseran usia. Sebelumnya banyak kasus usia di atas 60 tahun, saat ini mulai di bawah 60 tahun.

“Ada dua faktor penyebab bunuh diri yakni faktor biologi, psikologi, dan sosial. Untuk itu diperlukan penanganan serius dan sedini mungkin,” kata Ida.

Kasus bunuh diri lebih banyak disebabkan depresi. Depresi merupakan gangguan suasana perasaan yang ditandai murung, hilang minat dan mudah lelah.

“Jika depresi berat, dapat muncul dorongan dalam diri untuk mengakhiri hidup,” kata Ida.
Semua pihak harus paham dan mengenali faktor risiko bunuh diri, antara lain percobaan bunuh diri yang gagal, perubahan perilaku, dan stres. Kalau depresi dapat segera diatasi dan diketahui sedini mungkin maka aksi bunuh diri dapat dicegah.
“Obat-obat anti depresan juga tersedia di puskesmas jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” ujar Ida. (gun/iwa/mg1)

Gunungkidul