BELAKANGAN ini Gunungkidul dikejutkan munculnya fenomena alam semburan gas dan tanah amblas. Menyikapi kejadian tersebut, warga diminta tenang dan berkoordinasi dengan instasi terkait jika menemukan keganjilan alam di lingkungannya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Budhi Harjo mengatakan pihaknya sudah menerima laporan dan memonitor fenomena alam yang tidak wajar tersebut.
“Dari hasil monitoring di lapangan, kami meyakini fenomena seperti semburan gas dan tanah ambles bukan hal yang menakutkan,” kata Budhi Harjo kemarin (20/2).
Dia menjelaskan, seperti peristiwa semburan gas di Desa Sampang, Kecamatan Gedangsari misalnya. Saat ini kondisinya sudah berangsur pulih. Semburan gas yang semula dikhawatirkan sudah surut.
“Semburan gas sudah tidak ada, kini hanya menyisakan suhu panas di sekitar lokasi,” ujar Budhi.
Warga di sekitar lokasi tidak perlu panik secara berlebihan. Peristiwa munculnya gas sebenarnya sudah pernah terjadi pada 2006. Waktu itu terjadi di Bukit Boyo, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari. Berlokasi jauh dari pemukiman peduduk, waktu itu muncul semburan gas di sejumlah lokasi. Bahkan bau belerang sangat menyengat.
“Namun selang beberapa waktu semburan gas itu mati dengan sendirinya,” terang Budhi.
Belakangan muncul peristiwa sumur amblas. Berlokasi di Padukuhan Pati, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong. Sumur milik Kairan, penduduk setempat amblas.
Mendapatkan laporan warga, pihaknya menerjunkan petugas ke lokasi kejadian. Dari prediksi awal, Budhi berkeyakinan amblesnya sumur memang kejadian aneh namun tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
“Kami menduga, ini hanya karena tanah di dalam sumur tidak kuat menahan bis beton. Jadi, ketika intensitas hujan tinggi, tanah labil kemudian amblas,” katanya.
Lalu peristiwa tanah retak di Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, BPBD sudah bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Gunungkidul. Rencana awal, retakan tanah akan ditutup dengan menggunakan cor semen.
Sementara itu, Dosen Teknik Geologi UGM Gayatri Indah Marliyani berpendapat fenomena alam di Gunungkidul disebabkan faktor alam. “Fenomena itu biasa terjadi di daerah berkapur. Jika kena asam dari air hujan terjadi korosi. Akibatnya lapisan tanah rawan amblas,” kata Gayatri.
Hendaknya masyarakat memperhatikan lingkungan sekitar. Kalau mendapati pusaran air menuju titik tertentu kemudian air menghilang dengan cepat maka sekitar lokasi rawan ablas. (gun/iwa/mg1)

Gunungkidul