GUNUNGKIDUL – Tanah di Padukuhan Kayer, Desa Sampang, Kecamatan Gedangsari mengeluarkan panas dan gas belerang. Semburan gas belerang itu muncul dari samping rumah milik Trisno Wiyono.

Kejadian tersebut berawal saat Trisno pukul 06.15 hendak menanam pohon di samping rumahnya kemarin. Dia terkejut karena ketika mengayunkan cangkul ke tanah tiba-tiba keluar asap dari dalam tanah.
Trisno lalu mengambil linggis dan menancapkan ke tanah. Lalu lubang kecil menganga diikuti semburan gas berbau belerang.
“Dugaan kami ini merupakan gas belerang. Sebab wilayah ini dulu merupakan daerah gunung api yang aktif,” kata Trisno.
Kabar tersebut langsung menyebar. Warga berdatangan melihat fenomena tersebut. “Saya langsung memasang pipa besi untuk menghindari gas beracun. Karena dari kepulan asap keluar bau menyengat,” kata Supriyono, warga setempat.
Tanah di radius sekitar 50 sentimeter muncul hawa panas dari dalam tanah. Saking panasnya, besi pipa yang digunakan menyalurkan asap ikut panas.
Camat Gedangsari Muhammad Setyawan Iriyanto mengatakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sampel air yang menetes dari kepulan asap diteliti di laboratorium.
Dia mengimbau warga tidak melakukan aktivitas di sekitar lokasi sampai disimpulkan kandungan asap tersebut. “Jadi biar dipastikan fenomena apa ini,” ujar Setyawan.
Kejadian serupa pernah terjadi di Bukit Boyo, Desa Ngalang pada 2006. Semburan gas belerang lewat rekahan tanah sekitar bukit. Di sekitar lokasi juga terdapat bekas api dan tanah terbakar warna kehitaman serta terasa panas.
Kawasan itu berada di sisi utara perbukitan Gunungkidul yang berbatasan dengan Wedi, Klaten. Daerah itu merupakan patahan gempa dari Sesar Opak menyambung ke Sesar Jiwo Klaten.
Kawasan itu berada di formasi Semilir dan formasi Nglanggeran. Pejabat terkait waktu itu menjelaskan bahwa akibat gesekan antarformasi tanah menimbulkan api. Asap belerang menunjukkan adanya aktivitas vulkanik masa lampau. (gun/iwa/mg1)

Gunungkidul