· Padahal Seharusnya untuk Warga Miskin
GUNUNGKIDUL – Gas ukuran tiga kilogram atau lebih akrab dikenal dengan gas melon sebenarnya hanya diperuntukkan warga miskin dan rentan miskin. Namun di Gunungkidul, pengusaha justru melakukan penyerobotan.
Hal tersebut disampaikan oleh Kasi Perlindungan Kosumen Dinas Perindustrian Gunungkidul, Supriyadi kemarin (9/2). Dia mengatakan, kuota harian di wilayahnya tidak ada penambahan yakni sebanyak 10.200 tabung.”Namun kami akui ada pengusaha yang turut menikmati gas melon. Padahal, seharusnya itu tidak boleh. Karena itu haknya warga miskin,” kata Supriyadi.
Dari hasil pengawasan yang dilakukan petugas, ditemukan pengusaha seperti peternak ayam dan rumah makan menggunakan gas melon. Terkait dengan persoalan itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Pertamina agar ditindaklanjuti.”Jadi, nanti pengusaha yang menggunakan gas melon akan kami tandai dengan stiker. Namun sampai dengan saat ini stiker dari Pertamina belum dikirim,” ujarnya.
Respons awal dari pemkab, sejauh ini memberikan peringatan kepada agen. Pihak agan diberi surat peringatan agar tidak melayani pembelian gas dari pengusaha. Jika sanksi pertama hingga ketiga tidak dihiraukan maka dapat dipidanakan dan didenda.”Ada sekitar puluhan pengusaha yang menggunakan gas melon. Sudah kami peringatkan agar jangan sampai diulangi lagi,” tegasnya.
Karena diakui, dari hasil pengawasan yang dilakukan rata-rata pengusaha memborong hingga 60 tabung gas. Terang saja, pada saat pengiriman di agen, jumlah gas langsung lenyap begitu saja karena sudah dibeli pengusaha.”Dampaknya, terjadi kelangkaan.Warga miskin kesulitan memperoleh gas karena sudah habis,” terangnya.
Menurut Supriyadi, isu penyalahgunaan gas melon sudah menjadi isu nasional. Bahkan, Kepala Dinas Perindustrian, saat ini tengah melakukan rapat koordinasi dengan pemerintah pusat. Salah satu pokok pembahasan adalah berkaitan dengan persoalan distribusi gas melon yang tidak tepat sasaran.”Namun perlu kami sampaikan bahwa, selama ini kami tidak menambah kuota gas melon. Kalaupun terjadi penambahan itu, dilakukan pada saat hari tertentu misalnya lebaran atau hari besar yang lain,” kata Supriyadi.
Sementara itu, salah seorang warga Wonosari Wahyudi kerab mendapati pengusaha rumah makan yang menggunakan gas melon. Dia menyesalkan karena dengan mudahnya pengusaha bisa membeli gas padahal bukan haknya.”Sering saya melihat pengusaha rumah makan sekali pengiriman menerima lima hingga enam tabung gas melon,” kata Wahyudi. (gun/din/mg1)

Gunungkidul