GUNUNGKIDUL – Harapan nelayan Pantai Selatan kembali menikmati BBM dari SPBU wilayah setempat kandas. Rencana perbaikan bangunan dan instalasi yang rusak sekitar tahun 2000 hingga sekarang tidak terlaksana.

Padahal, keberadaan SPBU sangat penting bagi nelayan. Namun karena sudah mangkrak puluhan tahun, selama itu pula nelayan terpaksa mencari bahan bakar hingga ke provinsi lain.

Salah seorang nelayan, Ari mengatakan, selama ini dia mencari BBM hingga ke Wonogiri. “Biasanya kalau tidak ke Pracimantoro (Wonogiri), nelayan juga membeli BBM ke SPBU di Ponjong,” kata Ari.

Menurut Ari, situasi tersebut dilematis. Di satu sisi harus rela menempuh perjalanan jauh mencari bahan bakar, di sisi lain dapur harus tetap ngebul.

Dia berharap agar pemerintah memperhatikan nasib nelayan. “Sekarang kondisi SPBU sudah rusak. Jika memungkinkan, kami berharap bisa dihidupkan lagi,” harap Ari.

Ketua Kelompok Nelayan Pantai Sadeng Sarpan mengatakan upaya melobi agar SPBU kembali difungsikan sudah dilakukan. Namun harapan makin tidak jelas, karena belum ditindaklanjuti pihak terkait.

“Stasiun itu sangat penting bagi kami karena akses mudah untuk mendapatkan BBM,” kata Sarpan.

Sarpan berharap SPBU tersebut bisa dihidupkan kembali. Kesulitan nelayan bisa berkurang.

Kan, kami juga tahu pada saat musim paceklik ikan seperti sekarang semakin mempersulit kehidupan ekonomi nelayan,” kata Sarpan.

Kepala Seksi Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan DIJ, Supanto membenarkan SPBU Pantai Sadeng masih bermasalah. “Namun upaya perbaikan tidak bisa dilakukan. Bisanya ya dibangun total, dan itu memerlukan anggaran yang tidak sedikit,” kata Supanto.

Pertamina sebagai penyedia bahan bakar memiliki hitung-hitungan untung rugi mengoperasikan SPBU. Misalnya mempertimbangkan sisi bisnis dimana konsumsi bahan bakar dinilai kecil. Seperti diketahui, dalam satu bulan kebutuhan bahan bakar di sana hanya kisaran 32 kiloliter. (gun/iwa/mg2)

Gunungkidul