RADARJOGJA.CO.ID –Dewan Kebudayaan Gunungkidul resah. Keresahan dipicu karena DIJ, khususnya Gunungkidul dinilai mulai kehilangan identitas. Ikon Gapura Lar Badak (tugu) sudah sulit ditemui.

“Gapura Lar Badak mulai dibangun sekitar medio 1982. Awalnya sesuai perintah Keraton Ngayogyokarto,” kata Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto, Rabu (1/2).

Menurutnya, pada 1987, Pemkab Gunungkidul pernah menggelar lomba Gapura Lar Badak. Bupati waktu itu Subekti Sunarto, membuat perintah, agar gapura model Lar Badak dibangun di seluruh wilayah.

“Gapura Lar Badak merupakan ‘paring dalem’ (perintah) dari keraton,” ujarnya.

Filosofi Gapura Lar Badak, salah satunya ngayomi dan ngayemi (melindungi dan rasa tenang) kepada masyarakat yang membangun. Sejak saat itu, setiap penjuru wilayah DIJ, khususnya Gunungkidul memiliki ciri khas Gapura Lar Badak.

“Dulu, jika melihat Gapura Lar Badak artinya sudah masuk wilayah Jogjakarta,” ucapnya.

Namun itu dulu, kata CB Supriyanto. Sejak adanya lomba desa, masyarakat mengganti dengan tugu yang lebih praktis, karena gampang ditemukan di toko bangunan. Fenomena tersebut terjadi lantaran tidak ada regulasi yang mengharuskan pembangunan Gapura Lar Badak.

“Untuk diketahui, Gapura Lar Badak, mempunyai ciri bangunan dengan puncaknya terdapat mahkota kuncup melati,” terangnya.

Menurutnya, pergeseran model gapura sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

Kades Getas, Kecamatan Playen, Pamuji mengaku prihatin, di wlayahnya sudah tidak ada lagi Gapura Lar Badak. Bahkan pintu masuk ke desanya sudah dibongkar diganti dengan desain baru. “Sekarang sudah tidak ada lagi Gapura Lar Badak, karena memang tidak ada regulasi,” kata Pamuji.

Kepala Bidang Adat Seni dan Tradisi Dinas Kebudayaan Ristu Raharja mengaku siap melakukan sosialisasi pelestarian bangunan pada masyarakat. Penjelasan pada masyarakat akan dilakukan terus-menerus. Model gapura yang ada sekarang dibangun, karena ketidaktahuan.

“Target kami, seluruh desa di Gunungkidul bisa menjadi desa budaya. Salah satu syaratnya adalah melestarikan kesenaian, permainan, bahasa dan aksara, kerajinan, tradisi, struktur bangunan, dan kuliner lokal,” ujarnya.

Jika nanti sudah masuk desa budaya, pembangunan gapura bisa menggunakan dana keistimewaan.(gun/hes)

Gunungkidul