RADAR JOGJA – Profesi sebagai seniman tato cukup jarang digeluti oleh perempuan. Anneke Fitrianti, menjadi salah satu perempuan yang memilih melawan arus. Sebab perempuan 35 tahun ini meyakini tato sebagai bagian hidupnya. Bahkan, dia mengklaim kenal tato sejak lahir dan membuka mata.
“Aku dilahirkan di keluarga yang bertato. Ayah dan ibu kandungku semuanya memiliki tato yang cukup banyak dan mencolok,” ungkap Anne, sapaan akrabnya, kepada Radar Jogja Jumat (9/4).
Tumbuh dan bergaul di lingkungan musik underground seperti punk, hardcore, dan skinhead, hampir semua teman-teman Anne pun memiliki tato. Tidak heran, perempuan asli Bandung, Jawa Barat ini mendapat tato pertamanya di usia 16 tahun. Ya, meski Anne kemudian menerima nasihat dari ibunya karena pilihannya itu.
“Keluargaku penuh toleransi, humanis dan tidak konvensional. Hanya saja untuk tato, ibu berharap untuk aku selalu memperhatikan design tato dan penempatannya di badanku. Agar tidak menyulitkan atau menghambat masa depan ataupun karirku di kemudian hari,” bebernya.
Berjalannya waktu, tato justru menjadi pilihan hidup Anne. Sempat menjajal sebagai juru masak, kerja kantoran, model, sampai penyanyi, Anne memutuskan untuk menekuni dunia tato sebagai seorang profesional di usia 24 tahun. Sebuah profesi yang cukup tidak biasa bagi perempuan. Tapi keluarga dan kerabat Anne semua memakluminya. “Karena ya itu aku, untuk mereka kalau tidak kontroversial bukan Anne namanya,” ujarnya kemudian tertawa.
Perempuan yang juga memutuskan berhenti sekolah pada usia 16 tahun ini, sudah 11 tahun belakangan mendirikan Petrichor Tattoo. Melalui akun Instagram-nya, @anne.tattoo, perempuan yang hobi traveling ini juga kerap membagi hasil karyanya. Buatnya, tato merupakan penanda momen hidup dan merupakan hal paling intimate bagi seorang manusia yang lakukan terhadap tubuhnya. Lantaran dibutuhkan kesadaran dan komitmen penuh, untuk menoreh sebuah gambar atau simbol yang sifatnya permanen dengan makna personal.
Karena, jelas dia, untuk mendapatkannya, harus melalui proses yang menyakitkan. Dia menyebut, melihat ke belakang, dari banyak catatan sejarah tato di semua kultur di dunia, tato merupakan sebuah bentuk proses spiritual antara manusia dan ruhnya. “Untuk kemudian menyatu dengan alam semesta,” paparnya.
Disadari, stigma terhadap tato akan selalu ada. Tapi bagi Anne hal itu bukan isu utama. Jadi dia tidak mengambil pusing. Justru yang menurutnya penting, sejauh mana seorang manusia bisa merasa bahagia tanpa terpaksa atas pilihannya sendiri. “Walau berbeda dan melawan arus, menjadi orang baik dan berguna bagi sekitar,” ujarnya.
Karena itu, Anne berbahagia dapat menjadi mediator. Untuk membantu kliennya mewujudkan imajinasi mereka menjadi sebuah desain yang artistik. Di mana selanjutnya, torehan Anne itu dibawa dengan penuh kebanggan seumur hidup. Banyak hal-hal melankoli, kebahagiaan, kesedihan, ataupun hal-hal penyemangat yang para kliennya ingin tuangkan dalam bentuk tato. “Dan menjadi bagian dari sejarah hidup banyak orang, merupakan hal yang menyenangkan buatku,” ucapnya bangga. (fat/pra)

For Her