RADAR JOGJA – Tak kalah dengan Polri, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jogja juga memiliki personel perempuan. Setiap harinya yang bertugas di lapangan.

Salah satunya, Riska Arifa Mahadini. Dia baru bergabung satu tahun pada perangkat Pemerintah Kota Jogja tersebut di bagian Dalops Pengendalian dan Operasional Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan, Satpol PP Kota Jogja.

“Awal masuk Satpol PP karena pekerjaannya seru,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (26/2).

Perempuan 24 tahun itu, salah satu dari bagian 11 personel putri yang bertugas di lapangan. Awal masuk, Dini sapaannya itu direkrut dengan seleksi cukup ketat dan tidak asal comot. Dia harus lolos dari sejumlah tes yang meliputi psikologi, wawancara, bahkan serangkaian tes fisik seperti lari, sit up, push up, serta baris berbaris. “Saya kuliahnya di lapangan, jadi sudah terbiasa dengan tes fisik itu. Dan kebetulan saya juga suka di lapangan daripada harus kerja di dalam ruangan,” ujar jebolan S1 Pendidikan Jasamani Kesehatan dan Rekreasi, Unversitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Meski masih menjadi tenaga kontrak, anak sulung dari dua bersaudara itu sangat menikmati tugas yang tengah diembannya saat ini. Tuganya, turut dalam penegakan peraturan perundang-undangan yang dilanggar kalangan masyarakat.

Disamping juga ikut kegiatan pengamanan PAM rutin dalam acara tertentu. Terlebih, saat ini yang tengah disibukkan ialah patroli Gumaton (Tugu, Malioboro, Keraron) untuk penertiban terhadap pelanggaran protokol kesehatan (prokes) di kawasan tersebut. Patroli dilakukan setiap hari. “Kami regu putri sering dapat shif pagi jam 08.00-09.00. Tapi kadang juga saya ikut razia malam seperti penertiban PTKM,” jelasnya yang menyebut satu minggu 2-3 kali bertugas malam.

Takut? Tidak ada rasa itu dalam benak warga Sleman menjadi personel Satpol PP, sekalipun perempuan untuk terus melakukan pendekatan kepada masyarakat manakala ada yang menolak ditertibkan atau diingatkan ketika melanggar ketentuan dalam aturan yang diatur khusus. “Nggak ada rasa takut sih, soalnya kami sudah ada pedomannya. Kalau dia ngeyel biarin aja yang penting kita sudah mengingatkan,” ceritanya.

Sebagai personel perempuan, tidak menampik jika dirinya pernah mendapat godaan dari masyarakat yang notabene laki-laki. Namun, dengan seragam dan atribut yang dikenakan ia tak gentar dengan godaan  yang diterimanya. “Sering digodain orang misalnya, wah Pol PP (personel Satpol PP) nya cantik, udah biasa. Wah Pol PP-nya ada cewek lumayan. Itu nggak saya gubris, biarin aja,” tandasnya.

Pun pernah ada penolakan dari masyarakat, ketika diingatkan untuk patuh terhadap aturan yang telah tertuang. Misalnya, harus memakai masker di kawasan Malioboro. “Pas penolakan lumayan sering.  Baru-baru ini mengingatkan orang pakai masker tapi orangnya tidak berkenan diingatkan. Dia marah-marah, tapi kami harus melayani dan mengingatkan,” ceritanya.

Semua tugas yang diembannya ini, mengajarkannya kedisiplinan, rasa tanggungjawab apapun yang telah diamanahkan pada dirinya. Hingga, diaplikasikan pula dalam kehidupan sehari-harinya. “Kami selalu diingatkan  tetap tegas, tapi dengan santun nggak boleh arogan. Lelah, alhamdulillah nggak. Karena dijalani dengan senang,” imbuhnya. (wia/bah)

For Her