RADAR JOGJA – Media apa pun dapat digunakan dalam upaya menyebarkan ide. Risa Karmida, memilih melakukannya lewat dunia broadcasting. Bahkan lebih dari sepuluh tahun, lulusan Komunikasi Universitas Diponegoro ini bergelut dalam dunia penyiaran.

Berkisah tentang pertemuannya dengan broadcasting, ibu dua orang anak ini mengaku, awalnya lebih tertarik pada film. Risa bahkan banyak mengikuti komunitas film. Dari situlah, Risa tersadar bahwa dalam berkarya, selalu ada ide yang harus disampaikan kepada banyak orang. “Ini menarik sekali. Tapi ternyata nasib membawa saya ke dunia broadcasting, bukan film,” ujarnya seraya tersenyum saat ditemui di salah satu hotel di kawasan Mantrijeron, Jogja Kamis (26/11).

Broadcasting pun menghantarkan Risa pada sebuah tantangan baru. Terlebih, dunia itu sangat berhubungan dengan pendidikannya. “Pokoknya saya senang, dengan dunia televisi. Saya suka bekerja di depan layar. Tantangannya luar biasa. Kerja terasa ada gregetnya. Ketika di depan layar. Kan tidak boleh salah dan harus menampilkan yang terbaik. Karena dilihat oleh jutaan pasang mata,” ucapnya antusias.

Tapi, Risa mengaku, sebenarnya dia tidak membayangkan jadi seorang jurnalis. Di mana dia sangat membenci mata kuliah yang berhubungan dengan jurnalistik. “Nasib yang membawa saya ke televisi berita. Ini agak kualat juga sih. Ternyata kerja di televisi dan menjadi wartawan. Jadi ilmu terpakai banget dan diterapkan,” kisahnya tersipu.

Pengalaman Risa sebagai seorang jurnalis televisi berita nasional, nyatanya membuat Risa menemukan kebahagiaan. Bahkan menumbuhkan kerinduan. Risa pun mengalirkan energi itu dengan tetap melakukan siaran di televisi lokal. “Saat ini saya menjadi dosen tetap. Sebelumnya, saya juga sudah sering diminta menjadi dosen tamu,” ungkap lulusan S2 Komunikasi Universitas Gadjah Mada itu.

Ternyata, saat mengajar, Risa pun menemukan semangatnya untuk berbagi. Dengan semringah, Risa berkata, “Ternyata ada kepuasan juga, karena pengalaman saat diceritakan kembali, dapat memotivasi.” Tentu saja, karena ilmu yang dimiliki Risa komprehensif. Dia lulusan komunikasi, dan menerapkan ilmunya dalam praktik. Lalu membagikan pengalamannya selama praktik langsung di lapangan. “Pengalaman saya tidak akan dujumpai dalam buku mana pun. Tapi saya bisa cerita. Komprehensif, karena basic ada, pengalaman juga ada,” ujarnya.

Namun, perjalanan Risa tentu tidak terlepas dari tantangan. Dan itu, justru dirinya sendiri. Usai melahirkan, Risa mengalami baby blues. Ditambah kekhawatiran terus bermunculannya talent baru di dunia broadcasting. “Saya dalam kondisi down. Tapi dikasa untuk segera kembali normal. Segera kembali berkarya,” kenangnya.

Risa lantas memilih untuk menambah kompetensi sebagai obat. Dan mujarab. Dengan menempuh pendidikan S2, rasa kepercayaan diri Risa bertumbuh. “Sekolah lagi itu membuat saya berani bersaing dengan siapa pun. Saya tidak akan minder. Ketemu dengan siapa pun. Walau dia presenter televisi nasional dan saya lokal. Saya sudah S2, ilmu saya sudah lebih, saya juga sudah menjadi pengajar,” cetus yang saat ini mengejar beasiswa S3 di luar negeri itu. (fat/pra)

For Her