SELANG beberapa waktu setibanya di Timika, Papua, Westri mendapat pengalaman yang tidak akan terlupakan. Saat itu terjadi kerusuhan yang melibatkan suku asli dengan suku pendatang. Dirinya tak takut, karena dirinya meyakini Papua itu aman.Bahkan kepala sekolah sempat mengkhawatirkan dirinya, karena baru tiba dari Jogja sudah langsung mendapatkan pengalaman ini. “Aku sih tak takut, ya sedikit khawatir saja. Aku sempat tidak keluar rumah beberapa hari, sekolah juga diliburkan hampir satu minggu,” ujarnya.Dirinya sempat was-was ketika mendengar ada korban saat kerusuhan terakhir terjadi. Ada pendatang yang terkena panah. Namun perasaan itu berlarut-larut hilang, karena kondisi pun sudah membaik.
Datang dari tanah Jawa, dirinya memang harus beradaptasi dengan budaya dan lingkungan yang berbeda. “Cuma agak kaget aja waktu belanja ke pasar harga-harga bisa sangat mahal jika dibanding pasar-pasar di Jogja,” ujarnya.Menurutnya, Timika termasuk kota yang sudah modern. Sudah ada beberapa sekolah, perkantoran dan tempat hiburan. Meskipun dirinya diwanti-wanti jangan keluar terlalu larut malam demi keamanan. Meski sudah ada transportasi umum, dirinya lebih nyaman kemana-mana naik motor. “Aku berencana tinggal di sini selama satu tahun. Tapi aku sudah merencanakan beberapa hal yang bisa dipakai di sekolah, seperti materi atau media mengajar yang bisa digunakan selepas aku pergi nanti,” ujar Westri. (dya/ila)

For Her