DALAM menjalani profesi ini banyak cerita yang dialaminya. Termasuk dalam mengajarkan materi-materi tentang perbahasaan. Sistem yang digunakan pun jemput bola. Dimana perempuan kelahiran Bantul, 15 Juni 1981 ini harus terjun ke pelosok. “Meski sudah mencapai taraf tingkatan kelas, tapi belum tentu kemampuannya sepadan. Sehingga kita harus terjun dan melakukan pendekatan langsung,” katanya.Yuni menjabarkan daerah pedalaman memiliki kendala yang lumayan pelik. Dimana penggunaan bahasa Indonesia belum selancar bahasa ibu. Faktor ini, menurutnya, perlu dikawal secara perlahan. Dimana memerlukan pendampingan yang intensif dan konsisten.Berbagai upaya dilakukan dalam wujud program khusus. Misalkan membaca Alkitab secara bergantian di gereja. Hal ini setelah dilakoni dapat menaikkan rasa percaya diri anak. Terlebih dalam membaca di muka umum.
Membaca dan menulis merupakan bagian yang penting dalam perbendaharaan aksara. Sehingga metode-metode pengenalan terus dilakukan. Setidaknya dengan cara ini, Yuni dan timnya dapat mengurangi kesalahan susunan kata. “Perbedaan dialek dan budaya sangat berpengaruh. Selain itu juga faktor penunjang lainnya yang dirasa belum optimal. Sehingga proses pembelajaran sedikit tersendat. Untuk membaca di muka umum secara psikologis sangat berpengaruh kepada kepercayaan anak,” kata perempuan yang menjabat Koordinator Labschool Rumah Citta ini.Permasalahan lain yang kerap timbul dalam masalah aksara adalah keinginan. Selama 2,5 tahun di Nabire dirinya menemukan sebuah polemik. Saat anak masih berusia dini, keinginan dan rasa ingin tahu sangatlah besar. Namun beranjak ke bangku SD hingga SMA, rasa ini mulai luntur.
Penyebabnya adalah arogansi lingkungan yang membentuk mental ini. Dimana proses pembelajaran tidak berjalan dengan maksimal. Ini karena pembelajaran pada waktu itu mengedepankan tujuan tanpa melihat proses. “Ini yang sangat disayangkan, saat anak memiliki cita-cita tinggi justru dipotong ditengah jalan. Alhasil mimpi mereka semakin susut. Hal ini berpengaruh pada minat mereka, termasuk dalam hal membaca dan menulis,” kata ibu dari Maria Pembayun Panuntun Titah Lantang ini.Akses penunjang sekolah juga diakui masih belum optimal. Khususnya untuk sekolah pedalaman yang jauh dari akses umum. Untuk tenaga pengajar pun tidak dapat semaksimal seperti di kota. Bahkan dalam satu bulan frekuensi pertemuan tidak maksimal. “Waktu yang dialokasikan untuk belajar bisa terbilang minim. Bahkan dalam satu kesempatan hanya ada dua guru untuk satu sekolah,” ujar istri dari Albert Leonard Lantang. (dwi/ila)

For Her