SAAT berpuasa, metabolisme tubuh berubah. Jika diibaratkan mesin, saat puasa metabolisme tubuh berjalan dengan kecepatan 20km/jam, sedangkan dihari biasa mencapai 100km/jam. Untuk itu, mengatur jadwal asupan makanan ke dalam tubuh itu penting.
Meski puasa namun asupan makanan ke tubuh diharapkan tetap terjaga dengan porsi yang dikonsumsi tetap sama. Dokter Konsultasi Nutrisi dan Diet Pramita dr Ineka Andi Tabita MPH mengatakan secara general, jadwal makan saat berpuasa dan hari biasa tidak berbeda. Hanya saja, penempatannya yang berbeda. Jika biasanya jadwal makan pagi dan siang antara jam 7 dan jam 12. Nah, saat berpuasa berubah jadi saat sahur dan berbuka. “Kesalahan terbesar oleh sebagian orang adalah saat sahur hanya mengkonsumsi makan seadanya dengan porsi yang kurang (sedikit makanan). Tapi saat berbuka memakan semua makanan yang tersedia, tinggi karbohidrat, tinggi lemak, minim protein dan minim serat,” ujarnya saat ditemui di Laboratorium Klinik Pramita.
Dirinya mengatakan agar metabolisme tetap berjalan baik, perlu adanya adaptasi dan memperbaiki pola makan saat sahur. Misalnya para perempuan aktif dan ibu muda yang tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan makanan. Solusinya bisa memilih makanan siap saji tetapi yang berbahan alami. Jika tidak sempat masak makanan berat, masak yang mudah dan cepat. Misalnya sayur yang hanya perlu direbus dan sedikit tambahkan garam dan gula untuk perasa. Sedangkan untuk lauknya, bisa menggunakan masakan tadi malam dan tinggal menghangatkan. “Tapi yang dasar harus tetap ada, yakni sayuran yang tinggi serat. Kalau konsumsi serat kurang karena pagi hari malas makan sayur dan buah, bisa mengkonsumsi suplemen pengganti dan minum air putih yang banyak agar terhindar dari dehidrasi,” paparnya.
Di masyarakat pun sudah merebak presepsi, berbuka sebaiknya mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis. Menurut perempuan kelahiran Bandung, 19 April 1985 ini, saat berbuka sebaiknya jangan langsung mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis. Sebaiknya mengkonsumsi makanan atau minuman yang sifatnya netral untuk menyeimbangkan, seperti air putih. Kalau tubuh terasa gemetaran atau keringat dingin bisa mengkonsumsi teh hangat. Kemudian berikan jeda untuk tubuh memperbaiki metabolisme. “Memang kalau langsung makan manis tubuh terasa segar, misal makan kolak terpuaskan dahaganya. Tapi setelah satu atau dua jam, perut akan bergejolak, asam lambung langsung naik,” ujar pengelola Line Diet Centre ini.
Nah untuk jeda, ada orang yang mampu menunggu setengah jam, ada yang satu jam atau setelah tarawih, beda-beda. Baru setelah jeda, makan dengan porsi seperti biasa. Kemudian ditutup dengan makanan yang manis-manis, seperti kolak, sup buah, kurma dan sebagainya. “Karena makanan yang asin-asin atau gurih memiliki kecenderungan nagih, untuk itu perlu ditutup dengan makanan yang manis. Inilah kenapa makanan penutup pasti manis-manis,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, asam lambung sebenarnya bagus untuk mencerna semua makanan yang dikonsumsi. Tapi setelah keadaan perut kosong dan langsung dimasukan makanan yang manis atau berlebih akan memompa kerja asam lambung menjadi berlebihan. “Saat itu, tubuh justru menyimpannya sebagai lemak. Makanya pada beberapa orang merasa saat puasa tubuhnya malah jadi lebih gemuk, padahal makannya sedikit,” ujar dr Tabita. (dya/ila)

For Her