RADAR JOGJA – Manthous masih ‘hidup’ sampai hari ini. Beberapa waktu lalu, ahli waris maestro campursari itu menerima penghargaan Ambyar Award Spesial 2021 dari salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Mendiang Manthous merupakan seorang penyanyi sekaligus penemu musik campursari. Lahir dengan nama Anto Sugiartono di Kapanewon Playen, Gunungkidul, 10 April 1950 dan meninggal dunia 9 Maret 2012.

“Penghargaan Legend Award diberikan atas dedikasi bapak (Manthous) di industri musik Tanah Air,” kata Anindya Janu Wardani, anak ke-4 mendiang Manthous saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Padukuhan Jatisari, Kalurahan Playen, Playen, Jumat (19/11).

Seperti diketahui, semasa hidup Manthous telah melahirkan banyak karya dan segudang penghargaan. Bahkan lewat lagu buatannya, nama Kabupaten Gunungkidul ikut terkerek dan dikenal se-Indonesia.

Selama berkarier di industri tarik suara, Manthous telah menciptakan banyak lagu-lagu langgam campursari, seperti Ngidamsari, Keroncong Tani, Lamis, Laring Gunung, Gethuk, Rondho Kempling, Sakit Rindu dan masih banyak lagi. Selain lirik lagu menceritakan perjalanan hidup, dan cinta, sekaligus mengenalkan pariwisata Bumi Handayani.

“Setelah beliau wafat, campursari diteruskan sang adik Yunianto, tapi juga sudah almarhum. Praktis saat ini grup CSGK (Campursari Gunungkidul) vakum,” ujarnya.

Ketika ditanya apa Aninda siap melanjutkan? Dia menggeleng. Bukan tidak mau, namun lebih banyak karena pertimbangan tidak punya bakat. Demikian juga dengan anak kandung almarhum Manthous lainnya.
“Sekarang diteruskan cucu yakni Venta Caesar Bastian. Meng-cover lagu bapak dan diunggah ke akun Youtube Dapur Musik Project,” ungkapnya.

Disinggung mengenai royalti, menurutnya, aman. Semasa hidup, Manthous sudah didaftarkan. Sementara pada April lalu didaftarkan melalui music publisher. Adalah pihak yang mengelola, mengadministrasi, dan mengeksploitasi hak cipta. Artinya, jika ingin meng-cover, lagu harus minta izin. “Royalti masuk ke keluarga. Namun pada masa PPKM seperti sekarang, nominalnya menurun sekitar Rp 6 juta per tahun,” ucapnya.

Jalan Wonosari-Playen Jadi Jalan Manthous

Di 2014, Jalan Playen-Wonosari resmi ganti nama menjadi Jalan Manthous. Pergantian itu sesuai dengan Surat Keputusan No 140/KPTS/2014. Peresmian jalan dilaksanakan bupati dan dihadiri Muspida Gunungkidul serta Muspika Playen.

Ruas jalan dengan panjang kurang lebih 4 kilometer itu kini menjadi jalan kenangan bagi keluarga mendiang Manthous khususnya dan warga masyarakat Gunungkidul pada umumnya.

Seorang warga Kapanewon Playen, Markus Yuwono mengaku bangga dengan perubahan nama jalan itu. Sebagai warga Playen, pihaknya sangat mengagumi almarhum Manthous. Karya-karyanya semasa hidup sangat luar biasa. “Belum ada tokoh musik se-legend almarhum Mantous,” tandas Markus. (gun/laz)

Entertainment