RADAR JOGJA – Film Alang-Alang besutan sutradara Khusnul Khitam ini menceritakan tentang lika-liku kehidupan Huda. Seorang laki-laki yang menginjak remaja yang sedang mencari jati dirinya. Kepergian ibunya membuatnya harus menerima beban lebih di dalam pikiran, bangunan yang menjadi tempat tinggalnya sejak kecil tidak lagi dirasa seperti rumah.

Huda menjalani hari-harinya dengan berkeliaran di sekitaran pelabuhan Pekalongan dan menjadi “alang-alang”, istilah daerah setempat untuk orang yang suka mencuri ikan di pelelangan. Begitulah ide pokok cerita yang digarap oleh sutradara Khusnul Khitam menjadi sebuah film yang berdurasi 105 menit. Alang-Alang, sebuah film dokumenter yang menceritakan anak-anak yang terpaksa mencuri ikan untuk hidup di sebuah pelelangan di Kota Pekalongan.

Khusnul Khitam yang juga sebagai penulis naskah mengatakan, melalui film Alang-alang, harapannya dapat mengajak seluruh masyarakat, terutama para orang dewasa agar menyadari perannya untuk mendukung kehidupan anak-anak. Agar kedepannya, mereka memiliki harapan dan masa depan yang baik.

”Proses ini dapat terselenggara dengan kerja sama yang apik dan proses kreatif yang penuh diskusi untuk mewujudkan film ini dengan semangat yang sama,” ujarnya di sela -sela roadshow film di sebuah kafe di daerah Nologaten, Sleman, Kamis (11/11).

Produser film Chandra Sembiring menyampaikan, dalam roadshow juga diadakan workshop yang dilakukan oleh para filmmaker seperti Yudi Datau tentang sinematografi lanskap urban. ”Kami juga mengadakan acara ketemu dan bincang-bincang dengan para kru dan pemain di tiap-tiap kota tersebut,” tuturnya.

Yang unik dari film ini adalah, tokoh Huda diperankan oleh seorang anak berusia 12 tahun yang bernama Awang. Awang bukanlah seseorang yang berasal dari kalangan aktor namun pada kehidupan nyata Awang merupakan seorang “alang-alang”. (om10/ila)

Entertainment