RADAR JOGJA – Kabar baik bagi penikmat Konser Musik, sebab pada akhir September lalu pemerintah telah mengizinkan penyelenggaraan kegiatan berskala besar salah satunya konser. Hal ini tentunya ditunggu-tunggu oleh pecinta musik khususnya setelah 2 tahun hiatus dari keramaian dan harus menahan aktivitas di luar di masa pandemi.

Tapi tahukah kamu tentang perjalanan Konser Musik mulai dari awal booming-nya kegiatan tersebut hingga eksistensinya yang saat ini terus berkembang. Pada 2002, hadir Konser Musik yang bisa disebut pioner aktivitas gelaran permusikan pada masa itu. Pada tahun pertamanya, kegiatan tersebut dilaksanakan di Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Serunya, Konser Musik ini mengangkat tema Experience ‘Em All. Tentunya hal tema ini berhasil merangkul seluruh penikmat musik dan menghidupkan gairah bagi penikmat musik tanah air. Sehingga, meski belum mampu menggandeng musikus mancanegara, tapi paling tidak konser ini membuat generasi muda lebih mencintai musik karya anak bangsa.

Tidak hanya Jakarta, acara nge-gigs ini muncul juga di lima kota besar di Indonesia yaitu, Medan, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, dan Bali. Mengagumkan bukan? Seperti keberanian nyali panitia untuk menggelar festival di 5 kota, tema yang diangkat pun mengusung tema yang mendobrak keberanian, yaitu Aksi Musik Paling Bernyali.

Kesuksesan Konser Musik dua tahun berturut-turut menjadi euforia bagi penyelenggara konser musik, dan hal ini menjadi trigger di tahun selanjutnya mereka berani menggaet dua band internasional untuk perform. The Weekend dari Kanada dan The Casanovas dari Australia, yang berbagi panggung dengan tiga band papan atas tanah air yaitu God Bless, Slank, dan Peterpan.

Mengusung tema Make Music Not War, Konser Musik ini mengajak para pecinta musik untuk saling jaga kondisi nasional agar tetap damai. Kegiatan digelar di empat kota besar di Indonesia yaitu, Malang Padang, Makassar, dan Jakarta.

Selain menghadirkan musisi luar, festival musik ini juga mengapresiasi musisi lokal dengan hadiah yang tidak tanggung-tanggung. Hadiah itu ada di festival ke enam tahun 2007 yang bertemakan Sounds of Change. Yang pada saat itu terlibat hadir tiga musisi internasional dari Kanada, Dearest dan Crowned King, dan juga Scraping of Change dari Amerika Serikat dan ditahun-tahun ini konsep konser musik terus berkembang menjadi sebuah festival music.

Mengusung tema “The Spirit of All Time“, pagelaran musik berskala besar dan langgeng tersebut mencapai usia ke-17 pada tahun 2019 lalu. Meskipun, di tahun-tahun sebelumnya banyak rumor bahwa kegiatan akan dihentikan.

Akan tetapi, siapa sangka bahwa gelaran di tahun 2019 benar-benar menjadi gelaran terakhir sebelum pandemi. Benar saja, di tahun 2020 pemerintah menetapkan semua kegiatan yang berskala besar tidak boleh diselenggarakan, termasuk Konser Musik.

Sehingga, kenangan di tahun 2019 masih teringat dan terasa bagi setiap penonton. Deretan musikus-musikus Indonesia dan mancanegara hadir memeriahkan konser musik saat itu. Kegiatan yang selalu digelar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali beberapa tahun belakangan, dimeriahkan oleh Tashoora, Pee Wee Gaskins, Gym and Swim, Parau, Mellow Fellow, Adhitia Sofyan, Gugun Blues Shelter, Maliq & Désentials, Kelompok Penerbang Roket, Jamrud, hingga Padi Reborn menjadi Konser Musik terbesar terakhir di Indonesia.

Lalu bagaimana di tahun 2021 ? meskipun pemerintah telah memberi izin kegiatan berskala besar seperti konser musik?. Semoga ini menjadi titik terang festival musik terbesar akan hadir kembali tahun ini untuk mengobati kerinduan para pecinta musik. (sce/ila)

Entertainment