RADAR JOGJA – Dunia teater Indonesia kehilangan salah satu pionerya. Salah satu tokoh Teater Garasi Gunawan Maryanto yang akrab disapa Chindil meninggal dunia, Rabu malam (6/10). Sosok ini meninggal dunia akibat serangan jantung.

Salah satu pendiri Teater Garasi Yudi Ahmad Tajudin menuturkan saat itu Gunawan tengah rapat bersama manajemen. Peran sebagai direktur artistik membuat kehadiran Gunawan sangatlah penting. Hingga akhirnya mendapatkan serangan jantung sekitar 16.00 WIB.

“Saya sendiri tidak berada di studio, tapi dia sendiri sedang rapat jam 3 sore dengan manajemen teater garasi. Diakhir rapat saya dikabari dia sesak, mual muntah muntah, terus temen-temen teater garasi langsung membawa ke RS Ludira Husada terdekat dengan studio,” jelasnya ditemui di rumah duka, Dusun Karangmalang, Caturtunggal, Depok Sleman, Kamis (7/10).

Yudi menceritakan Gunawan tengah rapat tentang program kerja Teater Garasi. Berupa kolaborasi dengan aktor sepuh melalui podcast. Ide ini digagas langsung oleh Gunawan Maryanto.

Program ini nantinya akan mendokumentasikan cara baca para aktor sepuh. Tujuannya untuk mengetahui dan mempelajari karakter pengucapan dalam berakting. Untuk kemudian menjadi referensi para aktor muda.

“Program yang dia gagas, podcast untuk aktor sepuh. Dia hendak mendomumentasikan, cara baca, estetika aktor aktor sepuh. Juga membantu sedikit, karena dia berhasil dapatkan program suport dari Goethe Institute,” katanya.

Yudi sempat berkolaborasi karya pada 29 September 2021. Momen inipula yang menjadi peristiwa panggung terakhir bersama Gunawan Maryanto. Sebuah pertunjukan kecil dengan penonton yang sedikit.

Karya tersebut direkam dalam format audio visual. Untuk kemudian diunggah ke khalayak luas. Sayangnya sebelum karya ini tersiar, sang sahabat terlebih dahulu berpulang.

“Pertunjukan itu merefleksikan perjalanan teater garasi terakhir. Dibuat untuk peringatan 25 tahun,” ujarnya.

Dalam karya tersebut Gunawan hadir pada akhir pertunjukan. Merefleksikan diri selama 27 tahun berkarya di Teater Garasi. Menghadirkan pemikiran tentang batas seni dan bukan seni, kenyataan dan panggung, seniman dan aktivis dan peneliti.

Uniknya karya ini belumlah memiliki judul. Karya terakhir ini masih pada tahapan editing. Untuk kemudian ditampilkan secara online pada sebuah even 17 Desember 2021.

” Pertunjukan reflektif apa yang terjadi di balik panggung, projek-projek Teater Garasi, pikiran, pertanyaan. Belum kami beri judul, masih proses editing,” katanya.

Yudi secara pribadi mengenal Gunawan sebagai sosok yang disiplin. Memiliki dedikasi yang tinggi dalam dunia teater khususnya di Teater Garasi. Sosok perpustakaan berjalan untuk sastra dan kebudayaan Jawa.

Gunawan, lanjutnya, juga sosok yang sangat baik. Cenderung menghindari konflik atas permasalahan yang ditemui. Juga menjadi perekat dinamika kelompok teater garasi.

Di Teater Garasi, Gunawan tak hanya bertindak sebagai aktor. Bisa hadir sebagai pemberi ide, penulis, sutradara hingga pembuat karya. Karya-karyanya tak hanya terabadikan dalam lakon tapi juga puisi dan cerpen.

“Yang belum kesampaian nulis novel. Beberapa tahun ini beberapa kali ngobrol, belum menemukan waktu nulis novel. Dia bilang pengen nulis novel tapi disiplinnya beda banget dengan nulis cerpen,” ujarnya. (Dwi)

Entertainment