RADAR JOGJA – Hey Sephia, malam ini abang tak pulang. Tak usah kau menunggu abang. Abang pulang pingsan. Selamat tidur kekasih gelapku, walau tiada artinya. Bergadang boleh saja, asal ada Sephia.

Parodi lagu berjudul Sephia oleh grup band Sheila On Seven ini digabungkan dengan lagu Rhoma Irama ‘Bergadang’. Tanpa memberi jeda, musik terus mengalun. Dengan lirik suka-suka ria sang vokalis.

Begitulah gaya bernyanyi grup band militan Fakultas Sastra atau yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Musiknya mengalun indah. Punya khas. Perpaduan pop dan blues. Tetapi kadang kala lagu yang dinyanyikan menjengkelkan. Karena audience jadi sulit menirukan. Parodi lagu selalu berubah-rubah. Namun ada kalanya mengundang tawa. Mengandung unsur komedi.

Begitulah Sastro Moeni hidup kiranya lebih dari tiga dekade. Sejak awal grup band musik itu terbentuk. Yakni 1987 hingga saat ini. “Musiknya itu khas, agak nyeleneh sedikit komedi dan penuh kejutan. Tapi tetap asyik dan musiknya mengalun indah,” puji mahasiswa FIB UGM sekaligus penikmat Sastro Moeni kala itu, Heru Marwata kepada Radar Jogja (17/9).

Heru yang saat ini telah menjadi dosen di fakultas tersebut merasa Sastro Moeni paling legend di kampusnya. Bahkan terus beregenerasi hingga sekarang. Meski keberadaan saat ini tidak seaktif dulu.

Diceritakan, Sastro Mueni menjadi band cap stempel FIB. Menciptakan lagu pribadi maupun parodi lagu penyanyi lain yang kemudian diplesetkan. Namun selalu asyik di telinga. Meski, dirinya hanyalah penikmat, adanya band ini menambah keakraban antar-mahasiswa. Khususnya di lingkup FIB. “Apalagi lagunya asyik dan akrab ditelinga,” kenang Heru sembari tertawa.

Meski tak ingat betul siapa saja pencetus band ini, yang dia ketahui band dibentuk kumpulan aktivis mayoritas mahasiswa FIB. Kumpulan mahasiswa pecinta alam, yang gemar menginap di kampus (UGM). Sering tidur di kampus dan menjadi bagian kampus.

“Band ini seringkali tampil di kampus. Di berbagai fakultas, di ruang luas (lapangan) hingga ruang sempit (kantin). Bahkan setiap hari bisa disaksikan,” kata Heru.

Lambat laun band ini dikenal lebih meluas. Sering tampil di luar kampus. Dan audiancenya juga dari masyarakat sekitar. “Yang saya ingat band ini kerap tampil di Bonbin (Kebun Binatang Gembira Loka Jogja),” sambungnya.

Adanya band itu menjadi ruang ekspresi mahasiswa. Untuk unjuk diri menampilkan kreativitasnya dalam berpanggung. Lebih menghidupkan suasana kampus. Merekatkan tali persaudaraan dan keakraban mahasiswa. “Kalau pemainnya banyak. Setiap generasi ada. Tapi ciri khasnya sama,” ungkapnya. (mel/laz)

Entertainment