RADAR JOGJA – Tidak banyak kampus yang memiliki grup band. Apalagi grup band itu bisa bertahan lebih dari 30 tahun dan terus dilanjutkan oleh para mahasiswa angkatan yang lebih muda. Regenerasi terus berjalan.

Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta patut berbangga dengan Sastro Moeni. Sebuah band indie milik mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Band itu sudah terbentuk pada tahun 1988, saat masih bernama Fakultas Sastra.

Sastro Moeni dikenal karena kerap membawakan lagu-lagu yang bernuansa komedi. Guna menghibur sekaligus mengkritik kondisi sosial masyarakat. Kini Sastro Moeni bukan hanya sekadar band mahasiswa. Sastro Moeni atau yang biasa disingkat Sasmoen sudah menjadi brand dan identitas bagi UGM, khususnya Fakultas Ilmu Budaya.

Anang Batas adalah salah satu pendiri Sastro Moeni. Cerita pendirian band ini dimulai di Cibubur, Jakarta, pada tahun 1988. Anang Batas bersama dengan Menyung, Agung Gondrong, Elit, Gogon Totok, Uut, dan Budi Ngen (Bungen) yang merupakan para personel awal Sastro Moeni kebetulan mengikuti acara itu. “Waktu itu kami ikut acara Kemah Budaya Indonesia-Australia di kawasan Cibubur,” kata pria yang sering disapa Abat ini.

Kala itu, Sastro Moeni yang masih belum memiliki nama kerap membawakan lagu bernuansa country dan blues. Masih jauh dari niat parodi-parodian yang dikenal belakangan. Anang menyebutnya formasi ini sebagai Sastro Moeni akustik. Karena mereka memang menggunakan alat musik akustik pada awalnya. Anang senidri dahulu menjadi pemain bass.

Selepas mengisi acara kemah di Cibubur itu, mereka diantar terlalu cepat oleh panitia ke Stasiun Gambir. Bosan menunggu kereta, band baru ini berinisiatif genjrengan dan nyanyi-nyanyi di stasiun. Kegiatan itu melahirkan nama awal band ini: Sastro Gambir.

“Lalu, kalau nggak salah Desember 1988 di acara Gama Fair atau Maret 1989 di acara Pasar Seni Sastra, kami mengisi reguler di Sastro Warung, tempat teman-teman Sastra jualan makan dan minum. Nah, kami mengisi live music-nya. Di sana kami ganti nama jadi Sastro Moeni,” jelas Abat.

Sastro Moeni identik dengan lagu parodi. Namun, menurutnya, itu sebenarnya hanya jadi selingan saja. Paling dalam sekali show, Sasro Moeni hanya membawakan dua atau tiga lagu parodi saja. “Iya, awalnya hanya jadi selingan saja, buat hiburan,” ungkapnya.

Menurut Anang, dahulu Sastro Moeni generasi awal sudah cukup populer. Bahkan, band tersebut cukup sering diundang manggung ke beberarapa wilayah di Jawa. Salah satu yang diingat Anang adalah saat Sasmoen manggung di Madiun, Jawa Timur.

Menurut dia, kala itu panitia acara bahkan menyiapkan arak-arakan khusus untuk Sasmoen. “Ya, kitanya yang malu sendiri, wong kita ini ngeband cuma buat seneng-seneng, gak ada niatan lain,” ujarnya.

Sastro Moeni terus berganti personel. Hal itu dilakukan jika ada satu generasi personel yang sudah lulus dari UGM, atau ada keperluan lain. Namun, ada budaya menarik dalam proses regenerasi itu.

Para calon personel generasi baru Satsro Moeni harus menjadi kru terlebih dahulu bagi generasi band sebelumnya. Itu dilakukan agar ada ikatan yang lebih kuat di band tersebut.

“Band ini kan band kampus, kalau mau menjiwai band ini kan harusnya ngikutin bawah dulu. Mulai nyiapin air putih doang, diajari cara gulung kabel yang benar, baru ngelawak di panggung,” jelas Alfian Aulia Bapi, basis Sastro Moeni generasi ke-17. (kur/laz)

Entertainment