RADAR JOGJA – Puisi yang dimusikalisasikan, kemudian bertransformasi menjadi lagu jarang ditemui pada karya-karya di tanah air. Namun, penyanyi asal Jogjakarta, Fairuz Realindra, mampu membawakan secara apik puisi karya Agung Wibowo. Puisi tersebut berjudul Merespon Ruang Senja.

Ditemui di studio Digital Radar Jogja Realinda menjelaskan, puisi tersebut ditulis tahun 2020 dengan menggunakan ragam bahasa yang cukup unik. Kosakata di dalamnya jarang ditemui pada sebuah lagu seperti ad libitikum, yin dan yang, metafisika dimunculkan dalam lagu, sehingga menjadikan Merespon Ruang Senja berbeda dari yang pernah ada. Senja pada lagu lanjutnya bisa diibaratkan sebagai warna, waktu, ruang dan penutup sebuah hari.

“Senja menghadirkan makna yang beragam bagi pada pendengarnya. Seperti menjadi ciri khas seorang anak indie yang menjadi tren akhir-akhir ini,” papar Real belum lama ini.

Lirik lagu yang tidak diubah dari puisi aslinya ini ingin menjangkau makna dari berbagai puisi sastrawan ternama. Diubah oleh seniman asal Jogjakarta, Setyawan Cello, lagu ini berdurasi tujuh menit dan memiliki beberapa bait yang memang tidak diberi nada.

Realindra bercerita bagian yang paling sulit ialah menyanyikan dengan menghayati makna dari puisi Merespon Ruang Senja. Makna dari puisi tersebut belum pernah ia alami sebelumnya, sehingga menjadi tantangan tersendiri.

“Tantangannya ialah berusaha menjadi penulis, menjadi Agung Wibowo yang akan menyampaikan pesan ini lewat bernyanyi,” paparnya ketika membersamai Podcast ‘Bias’ Radar Jogja (27/7).

Cerita dari lagu ini melingkupi tiga hal yaitu, cinta, keangkuhan dan keegoisan. Bagaimana seorang penulis ingin menunjukkan ketika ia jatuh cinta namun teguh dengan sifat ‘aku’ yang seperti ini.

I Love You Ayah

Tidak hanya berbakat dalam menyanyi, Realindra juga seorang pemain biola dan penari kontemporer. Masa kecilnya dipenuhi kenangan manis bersama sang ayah. Pesan yang selalu diingat dari ayahnya ialah bagaimana membelanjakan uang yang dia punya untuk diinvestasikan menjadi ilmu, sehingga nilai uang itu tidak akan pernah habis.

Realindra kecil rutin mengikuti les musik dan olahraga, mulai dari les bulu tangkis hingga les tari dan les menyanyi. Sekolah Menengah Musik Jogjakarta menjadi tempat untuk mengembangkan bakatnya, ia mengambil kelas mayor, biola. Kemudian melanjutkan ke ISI Jogjakarta jurusan tari.

Real, sapaan akrab dari Fairuz Realindra menjelaskan dirinya mengenang sosok sang ayah sebagai seorang hero. “Ayah seorang penjual pecel madiun, walaupun lelah dia tetep nungguin aku les.

Sampai ketiduran di ruang tunggunya. Ayah paling seneng kalau nungguin les. Aku ditanyain selalu progressnya apa. Walaupun Ayah capek tapi selalu semangat,” ujarnya.

Dirinya bukanlah berasal dari keluarga berpunya, namun Real merasa bersyukur bisa menikmati berbagai fasilitas. Dia mencontohkan les yang tidaklah murah biayanya. Sehari setelah single debutnya rilis, yaitu pada 30 Juni 2021, sang ayah meninggal dunia.

Dirilisnya single tersebut juga sebagai hadiah bagi sang ayah. “Terima kasih atas semua perannya dalam kehidupan Real. I love you ayah,” ungkap Real penuh haru sebelum siaran podcast selesai. (om2/sky)

Entertainment