RADAR JOGJA – Festival tahunan seni rupa ARTJOG kembali digelar pada tanggal 8 Juni sampai 31 Agustus 2021 di Jogja National Museum (JNM), Jogjakarta. Tahun ini ARTJOG mengusung tema Time (to) Wonder sebagai lanjutan dari trilogy Arts In Common.

Direktur ARTJOG, Heri Pemad menuturkan, pemberlakuan PPKM Darurat sejak 3 Juli membuat ARTJOG MMXXI harus dilaksanakan dengan format daring sejak awal pelaksanaan.

Meski diselenggarakan dengan berbagai keterbatasan ARTJOG bertekad tetap hadir untuk masyarakat dan bisa dijadikan percontohan format pelaksanaan pameran seni yang bisa diterapkan sebagai kebiasaan baru.

“ARTJOG tahun ini lebih kepada memberikan motivasi, semangat kreatif yang bisa terbangun oleh siapa pun, di mana pun, dalam kondisi apapun. Sifatnya lebih kepada memberikan semangat untuk tetap bertahan di kondisi seperti ini,” ujar Heri Pemad ketika ditemui di JNM Selasa (3/8).

Heri memaparkan bahwa tahun ini lebih berat dan lebih mencekam daripada tahun sebelumnya. “Di tahun lalu semangat untuk menjadi pilot project kebiasaan baru di tengah pandemi untuk penyelenggaran pameran masih segar. Tahun ini, karena berbarengan dengan PPKM, ini adalah sesuatu yang cukup membingungkan.

Kami berusaha menaati peraturan sebaik mungkin tetapi ternyata PPKM berlangsung cukup panjang. Sudah satu bulan lebih dan belum ada kepastian bagaimana aturan ketika menyelenggarakan sebuah event dengan format seperti ini,” jelas Direktur ARTJOG, Heri Pemad.

Heri menambahkan, banyak sekali seniman dan pelaku budaya khususnya di Kota Jogja mengharapkan aturan yang jelas. Supaya tetap dapat mempertanggungjawabkan kewajibannya sebagai seniman dengan mempresentasikan karya kreatifnya.

Karya kreatif yang tidak melulu bersifat menghibur, tapi lebih dari itu, bahwa seniman bisa memberikan pemikiran-pemikiran yang berguna bagi masyarakat.

Kedepannya ARTJOG dapat menjadi tempat apresiasi seni yang lebih kepada gerakan edukasi dan kesadaran bersama terhadap seni alih-alih tempat wisata.

“Kemungkinan ARTJOG akan meneruskan kebiasaan baru ini dengan membatasi jumlah pengunjung sehingga tidak perlu bejubel. Dengan begitu proses apresiasi, presentasi karya, dan tata ruang bisa lebih maksimal dan nyaman,”ujar Direktur ARTJOG, Heri Pemad.

Sekretaris Yayasan Hita Pranajiwa Mandaya selaku penyelenggara ARTJOG, Gading Paksi meyampaikan, ARTJOG hadir bukan untuk melanggar aturan atau menantang kondisi. “Secara penyelenggaraan kami sudah siap menjadi ruang eksperimen bersama untuk teman-teman seniman dan pekerja kreatif supaya tetap bergerak di masa seperti ini. Artinya ketika ruang diskusi ini ada, akan muncul respons dan masukan baik dari pemerintah atau teman-teman seniman,” ucap Gading Paksi. (om1/sky)

Entertainment